Tampilkan posting dengan label Balangantrang. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Balangantrang. Tampilkan semua posting

Jumat, 16 Oktober 2009

Pengantar

Didalam cerita rakyat sunda tokoh Balangantrang banyak di kenal melalui sejarah lisan namun saat ini agak sulit membedakan peran Ki Balangantrang dengan Lengser atau Cerita Sikabayan. Karena ketiganya lebih dikenal dari perilakunya yang nyeleneh namun mengandung makna kajian yang dalam melalui sindir sampir. Merekapun hanya diala bobodoranana.

Cerita Si Kabayan mengisahkan tokoh sunda yang sederhana namun hidup dijaman modern. Cerita ini banyak menampilkan kisah-kisah lucu dan cerdik. Sehingga sosok Kabayan digambar sebagai orang sederhana yang lugu dan lucu namun kadang-kadang cerdik. Jika saja para penyaji cerita pandai meramu kisahnya dengan baik, seolah-olah membawa penononton untuk melakukan intropeksi dan mentertawakan diri sendiri.

Sikabayan dikenal lewat banyol an lisan namun Lengser dikenal lewat gerakannya. Peranan Lengser saat ini banyak dikenal melalui upacara adat sunda. Kolaborasi menjaga tradisi karuhun dengan intertement. Digambarkan sebagai kakek-kakek, berkumis, gendut, jalan agak membungkuk dengan tangan dibelakang, jalan lenggak lenggok, berpakaian seperti orang jaman dulu, memakai totopong dan membawa kaneron, berperan sebagai penyambut tamu dan pembawa berita.

Sampai saat ini saya belum mendapat referensi resmi tentang peranan Lengser didalam birokrasi kerajaan sunda, apakah Lengser ini patih kerajaan ? atau punakawan seperti semar dalam cerita pewayangan ?; atau bentuk lain yang disembunyikan dari peranan aKi Balangantrang ?”. Namun memang ada juga yang menyebutkan peranan Lengser dalam kerajaan Sunda sebagai Purohita.

Balangantrang Sang Bimaraksa
Dalam catatan sejarah lisan maupun resmi, Aki Balangantrang merupakan nama lain dari Bimaraksa, senapati sekaligus Mahapatih Galuh dimasa pemerintahan Purbasora. Didalam paradigma sejarawan sunda, Bimaraksa dikatagorikan sebagai patriot Galuh. Ia terlibat langsung dalam epos perjuangan Galuh melawan kerajaan sundapura.

Perlu ada semacam penekan tentang istilah “Kerajaan Sunda” yang dimaksud dalam cerita ini, bukan suku atau etnis, atau Geografis, (mengenal sunda besar dan sunda kecil ; selat sunda dll) melainkan “Sundapura” nama negara kecil yang dijadikan lokasi penerus pemerintahan kerajaan Tarumanagara, Karena Tarumanagara pamornya merosot maka Terusbawa, menantu Linggawarman (wafat 669 M) menganggap perlu untuk mengalihkan pusat pemerintahan Tarumanaga ke Sundapura (670 M).

Terusbawa sebelum menggantikan Linggawarman sebagai raja Tarumanaga adalah raja di Sundapura. Posisi Sundapura sebelumnya merupakan salah satu kerajaan kecil dibawah kekuaasaan Tarumanagara, sama halnya dengan Galuh dan kerajaan kecil lainnya (+ 46 negara).

Pemindahan pusat pemerintahan dan penggantian nama dari Tarumanagara menjadi Sundapura (670 M), memicu Wretikandayun untuk memisahkan Galuh dan Negara-negara kecil disekitarnya dari Sundapura.

Namun Terusbawa menyadari posisinya dan memilih jalan damai, maka Galuh didiamkan untuk bediri sendiri lepas dari Kerjaan Sundapura. Mengenai batas wilayah Galuh dan Sundapura disepakati dibatasi oleh Sungai Citarum. Galuh kemudian dikenal pula dengan sebutan Parahiyangan.

Jika dilihat dari batas Kerajaan Tarumanagara yang mendasarkan pada catatan sejarah jawa barat, pada saat Purnawarman Wafat, terdapat 46 kerajaan yang ada dibawahnya. Istilah “tungtung sunda” dalam peta Indonesia sekarang dapat meliputi Selat Sunda dengan Kali Serayu di Jawa Tengah bagian selatan dan Kali Brebes (Cipamali) di Jawa Tengah bagian utara.

Peranan Mahapatih Bimaraksa

Peranan aKi Balangantrang dalam sejarah lisan lebih dikenal melalui cerita Ciung Wanara, berperan sebagai pengasuh Ciung Wanara. Dikisahkan pasangan Aki dan Nini Balangantrang telah lama merindukan seorang anak, hingga suatu malam ia bermimpi kejatuhan bulan. Mimpi itupun ditafsirkan, : ia akan menerima rejeki. Malam itu juga Aki Balangantrang membawa kecrikan (jala penangkapan ikan) kesungai Citanduy.

Betapa gembiranya Aki Balangantrang menemukan ranjang emas yang isinya sesosok bayi mungil, ditemani sebutir telur ayam. Bayipun dirawat hingga dewasa dan diberi nama “Ciung Wanara”. Sedangkan telur ayam kemudian ditetaskan dan jadilah “Hayum aduan”. Kemudian yang tak kalah hebatnya adalah peranan sang ayam yang dijadikan taruhan. Konon kabar dari sang juru pantun, ayam Ciung Wanara tersebut tidak terkalahkan, berkat ayam adu ini kemudian Ciung Wanara dapat menerima tahta galuh.

Dalam Babad Pajajaran yang menjadi pengasuh Ciung Wanara adalah Ki Anjali, pemilik panday besi - pengolah besi untuk berbagai keperluan perkakas dari besi, termasuk senjata tajam. Ki Anjali disebut-sebut juga sebagai orang yang memperkenalkan Ciung Wanara kepada lingkungan Kerajaan Galuh.

Ada juga sumber lain yang mengabarkan, bahwa Ki Anjali adalah partisan Galuh pendukung Ki Balangantrang, bertugas membina masa rakyat di panday besinya untuk melakukan pemberontakan terhadap Sundapura.

Selain eksistensi para tokoh diatas disebutkan peranan Banga atau Haryang Banga yang umurnya dianggap lebih tua dari Ciung Wanara. Mungkin cerita ini agak “kasilih” dengan cerita Lutung Kasarung, karena dalam cerita ini ada juga disebut eksistensi wanara (kera). Sekalipun demikian, memang ada persamaan ending dari ceritanya, yakni Ciung Wanara atau Manarah menjadi raja di Galuh menggantikan Tamperan.

Sebenarnya kita tidak dapat menyalahkan para petutur lisan ini, yang sering hiperbol atau warokti dalam menuturkan kisahnya, bahkan membiarkan hayalannya (cittanung maya) jauh membumbung meninggalkan kesejatian sejarah. Selain diatas, para petutur biasa juga tidak mengenal adanya batas logika, kita masih perlu menafsirkan hingga sesak dengan pemaknaan.

Apapun masalahnya, patut juga diberikan apresiasi, jika saja tidak ada peranan para petutur lisan, seperti juru pantun, maka kitapun menjadi kehilangan jejak sejarah, bakhan bisa jadi kita tidak memiliki bahan dasar untuk menemukan sejarah.(*)


Lanjut ke masa pemberontakan Purbasora ...........



Dari berbagai sumber

Masa Purbasora


Jika ditilik dari cikal bakal raja-raja Galuh, menurut Pustaka Raja Nusantara, pada umumnya dikenal dari kepanditaan dan kesalehannya dalam memegang “tetekon agama jeung dari gama”. Hal ini tidak heran karena sejarah leluhur pendiri Galuh berasal dari Kendan, yakni “Resiguru Manikmaya”.

Kekuasaan di Kendan ia dapatkan setelah menikah dengan putri Maharaja Suryawarman, raja Tarumanagara. Sehingga wajar jika dalam cerita rakyat sekitar Galuh, pemihakan terhadap raja-raja yang saleh (minandita) lebih dihormati ketimbang raja-raja yang hanya mengurusi tahta. Sedangkan wilayah Galuh sendiri lebih dikenal dengan sebutan Parahyangan (Para Hyang)

Galuh didirikan oleh Wretikandayun setelah membebaskan diri, tanpa darah dari Sundapura (670 M). Wretikandayun memiliki tiga orang putra, yakni Sempakwaja, Jantaka dan Mandiminyak. Hanya karena Sempakwaja giginya ompong dan Jantaka memiliki Hernia maka keduanya dianggap tidak berhak mewarisi tahta Galuh. Wretikandayun wafat tahun 702 M dalam usia 111 tahun.

Sepeninggal Wretikandayun, tahta Galuh diserahkan kepada Mandiminyak, anak bungsunya. Dalam catatan sejarah Mandiminyak disebut-sebut memiliki dua orang putra, yakni Bratasenawa atau Sena dan Sanaha. Sena merupakan anak hasil perselingkuhannya dengan Rabbabu, istri Sempakwaja. Sanaha anak dari Parwati putri pasangan Kertikeyasinga dengan Ratu Sima. Kemudian Sena dan Sanaha (saudara se ayah) melakukan pernikahan dan melahirkan Sanjaya.

Sebelum menjadi raja galuh , Mandiminyak bersama istrinya pada tahun 695 M telah memerintah Mataram Kuno, pecahan dari Kalingga. Mandiminyak, setelah wafat digantikan Bratasenawa (709M) anak dari Rabbabu.

Memang peristiwa kelahiran Sena di Galuh dianggap aib besar. Untuk mendingin kan suasana Wretikandayun terpaksa harus memisahkan Mandiminyak dari Galuh dan menikahkannya dengan putri dari kerajaan kalingga.

Berikut ini saya cuplik dari Carita Parahyangan :

Carek Rahiang Sempakwaja:

"Rababu jig indit. Ku sia bikeun eta budak ka Rahiangtang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah."
Rababu tuluy leumpang ka Galuh.
"Aing dititah ku Rahiang Sempakwaja mikeun budak ieu, beunang sia ngagadabah aing tea."
Carek Rahiangtang Mandiminyak: "Anak aing maneh teh, Sang Salah?"
Carek Rahiangtang Mandiminyak deui: "Patih ku sia budak teh teundeun kana jambangan. Geus kitu bawa kategalan!"
Dibawa ku patih ka tegalan, Samungkurna patih, ti eta tegalan kaluar kila-kila nepi ka awang-awang. Kabireungeuh ku Rahiangtang Mandiminyak.
"Patih teang deui teundeun sia nu aya budakna tea!"
Ku patih diteang ka tegalan, kasampak hirup keneh. Terus dibawa ka hareupeun Rahiangtang Mandiminyak. Dingaranan Sang Sena.


Pemberontakan Pertama
Cerita yang sering hilang dari alurnya adalah alasan para keturunan Wretikandayun lainnya (Purbasora dan Bimaraksa) melakukan pemberontakan terhadap Bratasenawa yang termasuk keluarganya sendiri. Hal ini dimungkinkan jika dilihat dari dua alasan.

Pertama, keturunan Sempakwaja (Purbasora) merasa lebih berhak menggantikan tahta Wretikandayun, mengingat Sempakwaja anak pertama Wretikandayun. Sedangkan Bimaraksa, anak jantaka merupakan menantu dari Purbasora, sehingga wajar jika Bimarksa memihak Purbasora.


Kedua dapat saja disebabkan oleh asal-usul kelahiran Sena dan perilaku Mandiminyak yang dianggap tidak lajim oleh keturunan Wretikandayun lainnya. Perilaku menyimpang ini didalam sejarah raja-raja tatar sunda selalu diberi cap kurang baik. Selain hal tersebut, dilihat dari kesejarahan Galuh yang didirikan oleh seorang resi, mereka lebih menghormati raja-raja yang minandita. Disini ada semacam pesan moral yang terkait dengan masalah (bibit, bobit, bebet).

Dalam cerita yang beredar diluar Galuh, Sena memang dikenal sebagai orang alim namun kurang mendapat sambutan lingkungan keluarga Galuh, antara lain disebabkan sirsilah kelahiran diatasnya. Kekurang nyamanan lingkungan Galuh menyulut pemberontakan terhadapnya sehingga pada 716 M Sena dijatuhkan dari takhtanya, akibat pemberontakan yang dipimpin Purbasora.

Keberhasilan Purbasora tentunya tidak dapat dipisahkan dari peranan Demunawan dan Bimaraksa. Secara gagah berani Bimaraksa memimpin pasukan Bhayangkara, balabantuan dari Indraprahasta (kerajaannya terletak di Cirebon Girang). Bimaraksa dikenal pula sebagai senapati yang akhli memainkan berbagai jenis senjata dan akhli strategi perang. Mengingat peran Bimaraksa yang begitu besar dalam penggulingan Sena maka Purbasora mengangkatnya sebagai Senapati sekaligus Mahapatih Galuh.

Sekalipun tidak sebanyak bahasan untuk Sanjaya, carita Parahyangan menceritakan perihal suksesi di Galuh, sebagai berikut :

Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena.
Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora.
Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri.
Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun.


Keberpihakan Bimaraksa dan Demunawan terhadap Purbasora memberikan legitimatasi pada gerakan pemberontakan Purbasora, bahwa sedang terjadi pemberontakan dari tiga orang keturunan Wretikandayun terhadap keturunan Wretikandayun lainnya yang dianggap tidak syah tetapi menguasai tahta Galuh. Disinilah mulai terbentuk epos aki Balangantrang ((**)

Lanjut ke masa Sanjaya.


Dari berbagai sumber.

Masa Sanjaya


Pada cerita sebelumnya dijelaskan identitas Balangantrang berikut eksistensinya dalam membantu Purbasora merebut tahta Galuh dari Sana, atau Bratasenawa. Namun Kisah kemenangan Senjaya, putra Bratasenawa merebut kembali Galuh hampir tidak diketahui, jarang diceritakan atau mungkin juga tidak pernah terceritakan dalam sejarah lisan, sehingga kisah Balangantrang menjadi raib. Kisah ini baru muncul kembali dalam cerita Ciung Wanara. Itupun karena Balangantrang disebut-sebut sebagai pengasuh Ciung Wanara.

Meretas alur kesejarahan Sanjaya di Galuh hemat saya menjadi penting, karena eksistensi Sanjaya sebagai penguasa Sunda – Galuh didalam kesajarahan nusantara menjadi tak tersambung, padahal Sanjaya adalah pendiri Wangsa Sanjaya di Mataram Kuno - Medang, dan sekaligus penguasa Sunda dan Galuh. Dengan demikian Sanjaya memiliki wilayah kekuasaan yang lebih luas dari kekuasaan raja-raja Tarumanagara.


Sanjaya dalam sejarah Jawa Madha
Keharuman nama Senjaya di Jawa Kwulon, Madha dan Pawathan tak terkirakan. Menurut Slamet Mulyana, hanya Sanjaya yang menggunakan gelar Ratu dalam sirsilah raja-raja Medang, sedangkan yang lainnya menggunakan gelar Sri Maharaja. Gelar Ratu identik dengan sebutan Datu, pemimpin, keduanya diakui sebagai gelar orang Indonesia asli.

Prasasti Canggal yang dibuat Sanjaya pada tahun 732 M menyebutkan Raja Sanjaya merupakan pendiri Wangsa Sanjaya yang bertahta di Mataram Kuno – Jawa Tengah, Prasasti itupun menyebutkan, bahwa ada raja Medang sebelum Sanjaya yang memerintah Pulau Jawa, yakni Sanna.

Kisah Karuhun Sanjaya di Jawa Madha dan Pawathan terputus dan tidak terlacak, bahkan disinyalir hampir sama dengan kisah Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yang hanya mengkalim dirinya keturunan raja-raja Singasari. Namun kedua sejarah tersebut diuraikan dalam sejarah Sunda.

Jika saja mau sedikit telaten “Nyungsi Laratan” Sanjaya, atau sedikit mau berbesar hati membuka wacana ke Indonesiaan, Karuhun Sanjaya sebenarnya diuraikan dalam Carita Parahyangan. Ia disebut sebut sebagai putra Sanna, sedangkan Sanna adalah Putra Mandiminyak dari hasil hubungan gelapnya dengan Rabbabu, istri Sempakwaja, kakak Mandiminyak, atau dikenal pula sebagai ayah dari Purbasora.

Namun didalam buku pelajaran kelas empat Sekolah Dasar, Sanjaya disebut-sebut berasal dari Kerajaan Saunggalah, tapi entah dimana, yang jelas Kerajaan ciptaan itu meleburkan eksistensi Galuh sebagai salah satu kerajaan yang ada di tatar pasundan.

Carita Parahyangan memberi nama Rakeyan Jambri, dengan panggilan Rahyang Sanjaya.

Fragmen dari Carita Parahyangan tersebut, sbb :

Lawasna jadi ratu, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena.
Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora.
Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri.
Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun.

Carek Rahiangtang Kidul:

"Putu, aing sangeuk kacicingan ku sia, bisi sia kanyahoan ku ti Galuh.
Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan,
sarta anak saha sia teh?"

Carek Rakian Jambri:

"Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora."

Kemudian ada juga yang mengaitkan Sannaha sebagai ibu dari Sanjaya. Karena dianggap suatu hal yang mustahil jika Sannaha mau mendudukan Sanjaya di tahta Medang sepeninggalnya Sena. Sannaha disebut sebut juga sebagai putri Mandiminyak dari Parwati, Putri Ratu Sima dengan Kartikeyasinga, penguasa Kalingga. Dengan demikian disinyalir pula adanya perkawinan sedarah, antara Sena dengan Sannaha.

Prasasti Mantyasih yang dibuat pada tahun 907 menyebutkan raja Medang pertama adalah Rahyang ta rumuhun ri Medang Poh Pitu (Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya) namun tidak menjelaskan adanya Sanna sebagai pendahulunya.

Menurut versi ini, Sanjaya menjadi Raja di Medang setelah Sanna meninggal yang menimbulkan kekacauan. Kemudian Sanjaya menjadi Raja atas bantuan Sannaha, yang disebut-sebut sebagai Saudara perempuan Sanna.

Jejak Balangantrang pada masa Sanjaya
Hilangnya jejak Sanjaya menimbulkan putusnya jujutan Karuhun Sunda Galuh, terutama kaitannya dalam Kisah Ciung Wanara. Salah satu contoh adalah Kisah Bimaraksa atau lalakon Aki Balangantrang setelah kekalahan Purbasora oleh Sanjaya.

Kekisruhan sejarah lainnya ditenggarai dalam menempatkan identitas Ciung Wanara atau Manarah dengan Banga atau Haryang Banga. Padahal keduanya merupakan penerus syah dari kekuasaan raja-raja di tatar pasundan.

Ciung Wanara dan Haryang Banga dianggap “dulur pateterean”, dan palaputra dari Prabu Brama Wijayakusumah, dari dua ini yang berbeda, yakni Pohaci Naganingrum yang berputra Ciung Wanara dan Dewi Pangrenyep yang berputra Haryang Banga.

Konon kabar ketika Haryang Banga berumur 3 tahun Pohaci Naganingrum belum juga hamil. Ketika hamil Dewi Pangrenyep memrintahkan semua embank meningalkan Dewi Pohjaci dengan alasan, : kelahiran bayi Pohaci akan diurus langsung oleh Pangrenyep. Menurut cerita pula, ketika lahir bayi itu dibuang dan digantikan oleh seekor anjing, sehingga Dewi Pohaci dianggap melahirkan seeokr anjing. Serta dianggap aib dan harus dibuang. Disinilah dimulainya “lalakon” Ciung Wanara.

Dari untaian cerita rakyat, saya agak sulit menarik kesimpulan tentang : Siapa yang dimaksud dengan Prabu Brama Wijayakusumah ?, Tamperan Barma Wijaya atau Permana Dikusumah. Karena keduanya pernah memiliki istri yang sama, yakni Dewi Pohaci dan Dewi Pangrenyep (lihat kisah balangantrang dalam Masa Ciungwanara).

Bisa saja pasilih carita ini disebabkan dari cara menafsirkan rujukannya, karena dalam Carita Parhyangan Tamperan secara sepintas dapat disebut ayah Manarah.

Cuplikan dari persitiwa tersebut sebagai berikut :

Sang manarah males pati.
Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna,
ku Sang Manarah.
Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh.
Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu
kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah,
tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna
Rahiang Banga ku Sang Manarah.

Masalah kedua, status Ciung Wanara dengan Haryang Banga yang dianggap saudara satu ayah, menimbulkan terputusnya kisah perseteruan keturunan Wretikandayun dari Sempakwaja dan Jantaka dengan Mandiminyak. Berakibat pula eksistensi Purbasora dan Senjaya menjadi tidak terceritakan, serta peran Balangantrang didalam Kisah Ciung Wanara hanya menjadi bumbu cerita.

Masalah ketiga menyebabkan kisah kasih Tamperan dengan Dewi Pangrenyep, istri Permana Dikusumah tercampur dengan “lalampahan” Mandiminyak yang berhasil menghamili Rabbabu, istri kakaknya, yakni Sempak Waja.

Kisah ini disebut-sebut didalam Carita Parahyangan, dari hasil perselingkuhan melahirkan Sena (Bratasenawa) ayah Sanjaya. Bagi saya, ketidak utuhan penangkapan informasi oleh masyarakat menjadi wajar, karena masalah Mandiminyak maupun Tamperan dianggap aib, sehingga pesannya disampaikan secara bisik-bisik.

Mungkin kekisruhan kisah ini yang menyebabkan peran Bimaraksa menjadi terpisah dengan nama Balangantrang. Karena Balangantrang dalam sejarah lisan hanya diberi peran sebagai pengasuh dan bumbu dari cerita Ciung Wanara. Padahal didalam sejarah Galuh, Balangantrang memiliki epos tersendiri, mengantarkan Ciungwanara ketampuk kekuasaan Galuh.

Sanjaya Mengembalikan Tahta Galuh
Pengambilan alihan kembali tahta Galuh oleh Sanjaya, sebagai pewaris syah dari Sena diuraikan dalam cerita Parahyangan :

Carek Rahiangtang Kidul:
"Putu, aing sangeuk kacicingan ku sia, bisi sia kanyahoan ku ti Galuh.
Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan,
sarta anak saha sia teh?"

Carek Rakian Jambri: "Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora."


"Lamun kitu aing wajib nulungan. Ngan ulah henteu digugu jangji aing. Muga-muga ulah meunang, lamun sia ngalawan perang ka aing. Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, jugjug Tohaan di Sunda."


Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal.
Carek Rabuyut sawal: "Sia teh saha?"


"Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. Eusina teh, 'retuning bala sarewu', anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru."


Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh.


Rahiang Purbasora diperangan nepi ka tiwasna. Rahiang Purbasora jadina ratu ngan tujuh taun. Diganti ku Rakean Jambri, jujuluk Rahiang Sanjaya.


Kedatangan Sanjaya kepada Jantaka seperti diuraikan diatas sebenarnya hanya untuk meminta agar dapat bertindak sebagai pemberi keadilan, namun permintaan ini membuahkan kegalauan bagi Rahyang Guru (Jantaka). Mengingat, disatu sisi ia menganggap Sanjaya sebagai pewaris syah tahta Galuh disisi lain Bimaraksa, anaknya terlibat membantu Purbasora. Kisah selanjutnya Eahyang Guru memilih diam dan tidak terlibat dalam perseturan anak Sempakwaja, kakaknya dengan anak Mandiminyak, adiknya.

Kisah Sanjaya di Galuh tentunya sejaman dengan Kisah Balangantrang, mengingat keduanya actor intelectual dari persitiwa tersebut dan keturunan dari Wretikandayun, pendiri Galuh, yang sedang bersebrangan.

Jika dipetakan kekuatan politis dan militer Sanjaya, tentunya pada saat itu masih unggul dibandingkan Purbasora. Sekalipun Purbasora berhasil menurunkan Sena (ayah Sanjaya) dari tampuk pimpinan Kerajaan Galuh, namun tidak dapat begitu saja bisa menikmati kejayaannya, dan Purbasora sangat dihantui serangan Sena yang akan datang sewaktu-waktu.

Untuk mempertahankan kekuasaanya, Purbasora kemudian membentuk pasukan khusus dari legiun Indraprahasta (mertua Purbasora) yang panglimanya langsung berada dibawah Bimaraksa. Maka dalam cerita ini, Balangantrang masih memiliki eksistensi.

Sena pada waktu itu sangat bersahabat dengan Terusbawa, raja Sundapura yang memiliki legiun cukup kuat untuk menyerang Galuh. Sewaktu-waktu bias saja Sena meminta bantuan Terusbawa.

Kedua Sena cucu suami dari Parwati, penguasa Mataram dan iapun masih bersaudara dengan Dewasinga, keduanya keturunan Kalingga. Namun Sena yang dikenal santun dan alim ini menyadari kondisi percaturan politik di Galuh yang tidak menyenangi kehadirannya. Cukup beralasan jika tidak berniat melakukan pembalasan.

Lainnya dengan Sanjaya, putra Sena. Ia menganggap peristiwa ini sebagai penghinaan kepada ayahnya. Ketika peristiwa tersebut terjadi Sena tidak ada di Galuh. Kemudian Mempersiapkan diri menuntut balas atas penghinaan kepada Sena. Namun sama halnya dengan Sena, Sajnaya pun tidak berkeinginan menjadi Raja di Galuh.

Titik kekuatan lainnya yang dimiliki Sena setelah ia menikahkan Senjaya, putranya dengan putri Terusbawa, putri mahkota Sundapura.

Sanjayapun sebelumnya dinikahkan dengan Sudiwara putri Dewasinga. Dengan demikian posisi Sanjaya ketika itu sebagai putra mahkota Mataram dari Sanaha, ibunya ; sebagai putra mahkota Galuh dari Sena, ayahnya ; dan suami dari putri mahkora Sundapura. Jika diletakan dalam atlas, secara politis Sanjaya bisa menguasai 75% pulau jawa.

Untuk melaksanakan niatnya Sanjaya melatih pasukan khusus di Gunung Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, yang juga sahabat baik Sena. Disisi lain Sanjaya pun dibantu pasukan sunda yang dipimpin langsung oleh Patih Anggada. Sehingga hanya dalam satu kali penyerangan dimalam hari, Purbasora dan keluarganya dibantai habis.

Dalam cerita ini memang ada yang sedikit aneh, karena Bimaraksa, senapati yang sekaligus patih dari Galuh, bersama sebagian kecil pasukannya berhasil meloloskan diri, sehingga bias ditafsirkan adanya persekongkolan. Namun alasannya diuraikan dalam sejarah Jawa Barat, bahwa : Sanjaya mendapat pesan dari Sena, kecuali Purbasora, anggota keluarga Keraton Galuh lainnya harus tetap dihormati.

Dalam cerita ini dikisahkan pula, pasca kekalahan Purbasora, Demuwan diminta Sanjaya untuk menjadi memegang pemerintahan Galuh dibawah Sanjaya, sedangkan Bimaraksa kemudian menetap di Geger Sunten dan menyusun kekuatan baru. Iapun lebih dikenal dengan sebutan Balangantrang, dalam sejarah lisan disebut Aki Balangantrang, penyampai benang merah kisah Galuh kepada Ciung Wanara.

Permana Dikusumah
Sanjaya sebenarnya tidak memiliki ambisi untuk tinggal di Galuh, Ia pun berkeinginan menyudahi perang saudara. Sebagai orang yang taat terhadap orang tua iapun mengikuti pesan Sena untuk meminta restu dan menghormati orang-orang tua di Galuh. Langkah ini nampak dari cara Sanjaya meminta restu dari Sanjaya untuk memintakan pendapat agar Demuwan dapat diangkat sebagai “piparentaheun” – pemerintah yang mewakili kepentingan Sanjaya di Galuh.



Sempakwaja sebagai ayah dari Purbasora dan Demuwan tentunya patut mencurigai permintaan Sanjaya. Ia berpikir : permintaan ini hanya akan menjebak Demunawan untuk kemudian dibinasakan. Ia pun tidak rela anaknya menjadi bawahan sundapura pembunuh Purbasora. ia pun masih teringat perjuangan Wretikandayun, ayahnya ketika membebaskan Galuh dari Sundapura. Iapun tidak lantas menolak permintaan itu dan ia pun tidak lekas mengabulkan permintaan restu untuk mengakui Sanjaya sebagai penguasa Galuh. Namun Sempakwaja saja, bahwa : Sanjaya adalah pewaris sah kerajaan Galuh.

Untuk menjawab semua permintaan Sanjaya, Sempakwaja memberikan syarat dan tantangan : jika Sanjaya ingin direstui sebagai penguasa Galuh, maka Sanjaya harus membuktikan keunggulannya dengan cara menaklukan raja-raja di jawa tengah dan disekitar Galuh. Karena galuh bukan kerajaan kecil. Galuh harus dipimpin orang yang kuat. Syarat itupun sebenarnya ada maksudnya. Sempakwaja berniat menghadapkan Senjaya dengan jago andalannya, Pandawa, Wulan dan Tumanggul, masing-masing raja Kuningan, kajaron dan Kalanggara.

Sempakwaja juga meminta janji Sanjaya, jika Sanjaya dapat menaklukan tiga serangkai tersebut, maka Sempakwaja akan mengikuti apa yang dimintakan Sanjaya, namun jika sebaliknya maka Sanjaya harus mengikuti kemauan Sempakwaja. Kisah ini diceritakan didalam Carita Parhyangan, sebagai berikut :

Barang nepi ka hareupeun Dangiang Guru,
carek Dangiang Guru:
"Rahiang Sanjaya! Lamun kaereh ku sia Sang Wulan,
Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan,
aing bakal nurut kana sagala ucapan sia.
Da beunang ku aing kabawah.
Turut kana ucapan aing.
Da aing wenang ngelehkeun,
hanteu kasoran. Da aing anak dewata."

Sebagai orang yang mentaati orang tua dan leber elmu jeung wawanena, tantangan ini pun disambut gembira oleh Sanjaya, Sanjaya pun menyiapkan pasukannya. Kisah peperangan ini diabadikan didalam Naskah Wangsakerta (Naskah Kretabumi), isinya mengabarkan : Ketika belum menjadi raja Galuh Sanjaya dikalahkan oleh Pandawa raja Kuningan. Kelak setelah menguasai jawa kulwan (Sunda-Galuh) dan Medang (jawa madha) dengan pasukan yang besar, Sanjaya dapat terus memenangkan peperangan.

Kekalahan Sanjaya oleh tiga serangkai tersebut mengakibatkan ia harus memenuhi janjinya untuk tunduk pada keinginan Sempakwaja. Kemudian Sempakwaja menunjuk Permana Dikusumah, putra Wijayakusumah, cucu Purbasora untuk memegang pemerintahan Sanjaya di Galuh, dan Sanjaya menyetujuinya.

Untuk mengontrol kekuasaan Permana Dikusumah, Sanjaya melantik Tamperan atau Barmawijaya, putranya dari sunda sebagai patih duta Sunda. Tamperan juga diberi kekuasaan untuk memimpin Garnisun sunda yang ditempatkan di Purasaba Galuh (***)

Laju ka masa Manarah..................

Masa Manarah


Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Balangantrang dikenal juga dengan nama Bimaraksa, dalam cerita rakyat dikenal dalam kisah Ciung Wanara sebagai pasangan nini aki Balangantrang yang menemukan bayi Ciung Wanara, bayi itu ia beri nama Ciung Wanara.


Tersebutlah sepasang aki dan nini Balangantrang yang tinggal di Geger Sunten, suatu wilayah yang tidak memiliki tetangga. Karena kesepiannya si nini merindukan kehadiran anak yang konon tak kunjung tiba. Hingga pada suatu malam, si nini bermimpi kejatuhan bulan, si aki pun menafsirkan bahwa sebentar lagi ia akan mendapat rejeki.


Karena profesi aki Balangantrang sebagai penangkap ikan, pada malam itu juga aki membawa “kecrik” ke kali Cintanduy. Namun tanpa diduga duga, tiba-tiba melihat ranjang bayi yang gemerlap di tepi sungai, "lir ibarat emasng singaling". ia pun lantas mengambil dan memeriksanya. Betapa terkejutnya ketika dibuka nampak sesosok bayi mungil yang masih hidup. Disebelah bayi tergeletak sebutir telor ayam.

Konon menurut yang empunya cerita, bayi itu lantas di “rorok” dengan penuh kasih hingga dewasa, sedangkan telur ayamnya di tetaskan hingga menjadi seekor ayam jantan. Konon pula, kelak ayam itu menjadi ayam aduan yang tangguh dan berhasil mempersembahkan mahkota.

Balangantrang mendapat kabar, bayi yang ia pelihara itu ternyata anak raja. Aki dan Nini pun kemudian membekali pengetahuan secukupnya. Mereka pun menceritakan kepada Ciung Wanara, bahwa mereka sebenarnya bukan orang tuanya. Dan orang tua Ciung Wanara adalah seorang raja. Cerita selanjutnya dikisahkan, bagaimana Ciung Wanara memenangkan taruhan adu ayam, hingga kemudian ia menjadi raja di Galuh.

Dalam cerita lisan ini memang tidak disebutkan adanya pemisahan batas kekuasaan Manarah dengan Haryang Banga sebagaimana yang dikenal dalam catatan sejarah resmi. Namun ada persamaan mengenai batas wilayah kekuasaanya, yakni di batasi Kali Citarum.

Manarah dan Balangantrang



Dalam catatan sejarah, Ciung Wanara dikenal dengan nama Manarah, putra Permana Dikusumah – seorang raja “nu minandita” dari Pohaci Naganingrum, putri Balangantrang.

Permana Dikusumah lebih dikenal karena sikapnya yang minandita. Permana Dikusumah lebih senang bertapa ketimbang mengurus tahtanya. Dari sifatnya yang alim, Permana Dikusumah diberi nama Bagawan Sijalajala atau Ki Ajar Resi. Dengan demikian Manarah adalah cucu dari Bimaraksa.

Tentang Permana Dikusumah, biasanya cerita lisan sering “pacaruk” dengan cerita Mundiinglaya Dikusumah (Surawisesa), mungkin cerita ini terbaur karena memliki nama yang sama, yakni Dikusumah, agak sulit dibedakan. Sehingga epos Sunda (Sundapura) dengan Galuh menjadi cair.

Permana Dikusumah sebenarnya bukan keturunan Mandiminyak yang mendapat amanah menggantikan Wretikandayun, ayahnya. Ia anak Patih Wijaya Kusumah, Putra Prbasora. Memang sepintas menjadi aneh dan menimbulkan pertanyaan serius bagi para akhli sejarah :”kenapa Sanjaya memilih Permana Dikusumah sebagai pemegang pemerintahan di Galuh dan Sanjaya malah tinggal di ibu kota sunda ?.

Para akhli sejarah mencari jawaban ini dari Carita Parhyangan. Konon kabar setelah mengalahkan Purbasora, kemudian ia mengutus patih menemui Sempakwaja. Ia meminta agar Demuwan (adik Purbasora dan anak Sempakwaja) direstui untuk memegang pemerintahan di Galuh.


Karena Sanjaya tidak memiliki ambisi untuk tinggal di Galuh, Ia berkeinginan untuk menyudahi perang saudara. Sanjaya pun meminta restu ini karena menghormati orang-orang tua di Galuh sesuai dengan pesan Sena (ayah Sanjaya).


Sempakwaja patut mencurigai permintaan ini dan berpikir : permintaan ini hanya akan menjebak Demunawan untuk kemudian dibinasakan. Ia pun tidak rela anaknya menjadi bawahan sundapura pembunuh Purbasora. Sedang ia pun masih teringat perjuangan Wretikandayun, ayahnya ketika membebaskan Galuh dari Sundapura. Iapun tidak lantas menolak permintaan itu dan ia pun tidak lekas mengabulkan permintaan restu untuk mengakui Sanjaya sebagai penguasa Galuh. Namun Sempakwaja saja, bahwa : Sanjaya adalah pewaris sah kerajaan Galuh.

Untuk menjawab semua permintaan Sanjaya, Sempakwaja memberikan syarat dan tantangan : jika Sanjaya ingin direstui sebagai penguasa Galuh, maka Sanjaya harus membuktikan keunggulannya dengan cara menaklukan raja-raja di jawa tengah dan disekitar Galuh. Karena galuh bukan kerajaan kecil. Galuh harus dipimpin orang yang kuat. Syarat itupun sebenarnya ada maksudnya. Sempakwaja berniat menghadapkan Senjaya dengan jago andalannya, Pandawa, Wulan dan Tumanggul, masing-masing raja Kuningan, kajaron dan Kalanggara.

Sempakwaja juga meminta janji Sanjaya, jika Sanjaya dapat menaklukan tiga serangkai tersebut, maka Sempakwaja akan mengikuti apa yang dimintakan Sanjaya, namun jika sebaliknya maka Sanjaya harus mengikuti kemauan Sempakwaja. Kisah ini diceritakan didalam Carita Parhyangan, sebagai berikut :


Barang nepi ka hareupeun Dangiang Guru,

carek Dangiang Guru:


"Rahiang Sanjaya! Lamun kaereh ku sia Sang Wulan,

Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan,

aing bakal nurut kana sagala ucapan sia.

Da beunang ku aing kabawah.

Turut kana ucapan aing.

Da aing wenang ngelehkeun,

hanteu kasoran. Da aing anak dewata."



Sebagai orang yang mentaati orang tua dan leber elmu jeung wawanena, tantangan ini pun disambut gembira oleh Sanjaya, Sanjaya pun menyiapkan pasukannya. Kisah peperangan ini diabadikan didalam Naskah Wangsakerta (Naskah Kretabumi), isinya mengabarkan : Ketika belum menjadi raja Galuh Sanjaya dikalahkan oleh Pandawa raja Kuningan. Kelak setelah menguasai jawa kulwan (Sunda-Galuh) dan Medang (jawa madha) dengan pasukan yang besar, Sanjaya dapat terus memenangkan peperangan.

Kekalahan Sanjaya oleh tiga serangkai tersebut mengakibatkan ia harus memenuhi janjinya untuk tunduk pada keinginan Sempakwaja. Kemudian Sempakwaja menunjuk Permana Dikusumah untuk memegang pemerintahan di Galuh, dan Sanjaya pun menyetujuinya.

Ending yang sama namun disajikan dengan alasan yang berbeda, dikemukakan dalam Naskah Wangsakerta, isinya mengabarkan : Sanjaya menjadi Raja Galuh Pakuan (sunda dan galuh) tetapi kerabatnya, yakni Sempakwaja dan Demuwan merasa tidak senang melihat Sanjaya menjadi penguasa sekitar Galuh, terutama melihat Galuh berada dibawah Kerajaan Sunda.

Karena itu ia tinggal di ibukota sunda. Oleh karenanya Galuh dikuasakan kepada Prabu Permana Dikusumah sebagai raja bawahan sunda. Untuk mengontrol kekuasaan Permana dikusumah, Sanjaya melantik Tamperan atau Barmawijaya, putranya dari sunda sebagai patih duta Sunda. Tamperan juga diberi kekuasaan untuk memimpin Garnisun sunda yang ditempatkan di Purasaba Galuh.

Peristiwa Dewi Pangrenyep
Telah diuraikan diatas, Permana Dikusumah sangat terkenal dengan kepanditaannya, iapun pernah menjadi raja dibawah kekuasaan Mandiminyak. Bahkan julukan resi ia terima sejak masih muda.

Permana Dikusumah juga menantu Bimaraksa. Dari Naganingrum kemudian ia dikaruni anak yang diberi nama Surotama atau Manarah. Ada juga petutur yang memberinya nama Ciung Manarah, sedangkan dalam tradisi lisan (pantun), Manarah dikenall dengan sebutan Ciung Wanara. Ia sangat disayang, kakeknya, Bimaraksa. Dari Manarah terkumpul darah keturunan Wretikandayun tulen, yakni Sempakwaja dan Jantaka.

Pada periode kepemimpinan di Galuh, Permana Dikusumah di jodohkan dengan Dewi Pangrenyep, putri Anggada, patih Sundapura. Umurnya jauh lebih muda dari Permana Dikusumah.


Konon kabar karena beda umur ini dan hobinya Permana Dikusumah menyebabkan Pangrenyep menjadi kesepian. Dalam cerita lain, seringnya Permana Dikusumah pergi bertapa disebabkan keengganannya mengabdi kepada Sanjaya, pembunuh kakeknya. Namun semua itu ia lakukan sesuai permintaan Sempakwaja, kakek buyutnya.

Selama ditinggalkan bertapa Pangrenyep sering bertemu dengan Tamperan, patih yang masih muda dan gagah perkasa, terjadilah perselingkuhan. Hal inipun tidak diketahui Sanjaya, mengingat Sanjaya masih terus melakukan ekspansi kenegara lain.


Hubungan gelap Tamperan kemudian melahirkan seorang anak, yang diberi nama Banga. Permana beranggapan, Manarah tidak akan pernah menjadi Raja Galuh, karena siapapun yang dilahirkan Pangrenyep, secara resmi masih istri Permana, dinisacayakan menjadi raja di Galuh.

Sampai cerita ini, banyak sejarah nu pagaliwota, paling tidak penafsiran Manarah satu ayah dengan Banga, dan menganggap Permana Dikusumah telah meninggal, sehingga perseteruan Manarah dengan Banga dianggap perebutan tahta adik dan kakak.


Peristiwa memalukan ini kemudian diketahui Sanjaya. Untuk menutup aib Sanjaya menyingkirkan Tamperan ke Pakuan. Setelah penaklukan Jawa Madha dan Jawa Pawathan, Sanjaya memutuskan untuk tinggal di Galuh. Namun tidak berlansung lama, karena pada suatu ketika Sena meminta sanjaya menggantikannya, menjadi raja di Mataram.
Permintaan ayahnya tersebut menyebabkan Senjaya sangat sulit untuk menentukan pengganti yang dapat mejadi wakilnya di Galuh. Sementara itu, Permana Dikusumah pun telah berketetapan untuk menjadi pertapa dan meninggalkan kesibukan dunia. Pada akhirnya Senjaya menunjukan Tamperan sebagai penguasa Galuh.

Balangantrang manggung deui
Sebenarnya cinta terlarang tamperan dengan Pangrenyep tidak akan menumpahkan darah jika Tamperan tidak membunuh Permana Dikusumah dipertapannya. Pembunuhan terjadi ketika Tamperan menggantikan posisi Sanjaya di Galuh, namun ia belum memiliki permaisuri. Ia memilih pangrenyep untuk menjadi istrinya. Sayangnya Pangrenyep masih istri resmi dari Permana Dikusumah, hingga iapun perlu terlebih dahulu melenyapkan Permana Dikusumah.

Setelah suruhannya berhasil membunuh Permana Dikusumah kemudian iapun sekaligus menikahi Pangranyep dan Naganingrum. Iapun memperlakukan Manarah seperti anaknya sendiri. Mungkin peristiwa inilah yang ditafsirkan Manarah dan Banga adik kakak satu ayah. Bahkan dalam cerita rakyat nama ayah keduanya disebut-sebut Prabu Brama Wijayakusumah, hampir sama dengan nama Tamperan Barmawijaya.


Skandal yang sebelumnya menjadi rahasia Tamperan pada akhirnya tercium luas di lingkungan Galuh, terdengar pula oleh Bimaraksa di Geger Sunten, pada waktu itu sedang aktif menghimpun kekuatan dengan nama Aki Balangntrang. Ia pun mendapat dukungan dari raja-raja sekitar Galuh yang berhasil ditaklukan Sanjaya. Tugas ini tidak begitu sulit dilakukan, karena sebelumnya ia dikenal sebagai senapati dan Patih Galuh yang tangguh, serta masih terhitung cucu dari Wretikandayun.

Untuk mematangkan soliditas perlawanan, Balangantrang merasa perlu menarik Manarah dipihaknya. Memang agak sulit, karena Tamperan mengakui dan memperlakukan Manarah sebagai anaknya sendiri. Namun bagi gerakan Balangantrang, Manarah adalah simbol perlawanan Galuh, karena ia anak Permana Dikusumah yang dibunuh Tamperan. Pada akhirnya Manarah dapat diyakinkan, hingga iapun sering secara diam-diam menemui kakeknya di Geger Sunten.


Penyerbuan Manarah dan pasukan Balangantrang untuk menguasai Galuh diatur dengan seksama. Bagi mereka masalah penguasaan teritorial kota Galuh tidak sulit dilakukan, mengingat kesehariannya Ia hidup dilingkungan Galuh. Balangantrang merencanakan untuk melakukan penyerbuan pada siang hari, dengan cara langsung menguasai istana, sedangkan Manarah melakukannya ditempat sabung ayam, ia akan terlibat sebagai peserta sabung ayam. Biasanya pada acara itu di hadiri pada saat para pembesar istana (termasuk Tamperan). Sehingga dengan taktik ini Balangantrang akan sangat mudah menguasai istana. Namun dalam sejarah lisan, masyarakat Galuh lebih banyak menceritakan kisah sabung ayamnya, ketimbang penguasaan keraton oleh pasukan Balangantrang.


Upaya merebut tahta Galuh itu dilakukan pada tahun 723, dan berhasil dengan gemilang. Jika Sanjaya dahulu merebut tahta Galuh dari Purbasora dilakukan pada malam hari, namun Manarah dengan Balangantrang melakukannya pada siang hari.


Persitiwa ini diceritakan didalam Carita Parahyangan, cuplikannya sebagai berikut :

Sang manarah males pati.
Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna,
ku Sang Manarah.
Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh.
Rahiang Banga datang bari ceurik,
sarta mawa sangu kana panjara beusi tea.
Kanyahoan ku Sang Manarah,
tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna
Rahiang Banga ku Sang Manarah.
Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa,
mangrupa persembahan.
Nurutkeun carita Jawa,

Rahiang Tamperan
lilana ngadeg raja tujuh taun,
lantaran polahna resep
ngarusak nu tapa,
mana teu lana nyekel kakawasaanana oge.
Sang Manarah, lilana jadi ratu dalapanpuluh

taun, lantaran tabeatna hade.

Perjanjian Galuh
Sanjaya mendengar berita kematian anaknya, dengan pasukan besarnya IA menyerang purasaba Galuh. Tapi Manarah telah mempersiapkan diri menyongsong serangan,dibantu oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta yang kerajaannya telah dibumi hanguskan Sanjaya, disampng itu ia dibantu raja-raja di daerah Kuningan yang pernah ditaklukan Sanjaya.

Pengulangan perang saudara tidak berlangsung lama karena dapat dilerai oleh Resi Demuwan. yang memaksa mereka untuk berunding.

Dari perundingan kemudian disepakati, : menyudahi permusuhan ; tidak boleh saling menyerang ; penyelesaian masalah harus dengan musyawarah ; hubungan kekerabatan tidak boleh terputus ; harus saling menghormati hak ahli waris yang syah, yakni negeri sunda dari daerah Citarum ke barat dipimpin oleh Banga sedangkan Negeri Galuh dari Sungai Citarum ke timur dipimpin oleh Manarah.


Memang patut disayangkan, bekas kerajaan Tarumanagara yang berhasil disatukan oleh Sanjaya (723 – 739) terpaksa harus terpisah kembali. Namun ketika jaman Pajajaran (Kawali dan Pakuan) wilayah ini untuk yang kedua kalinya dapat dipersatukan.

Dalam babak berikutnya Galuh diserahkan kepada Manarah dengan gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana, sedangkan Sunda diserahkan kepada Banga dengan gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya. Perundingan itupun menetapkan status Banga menjadi raja bawahan Galuh. Namun Banga menerima keputusan ini, karena ia merasa masih bisa tetap hidup karena kebaikan Manarah.

Sama dengan tradisi raja-raja dahulu yang kerap dilakukan, adalah mengikat pertalian saudara melalui perkawinan. Untuk lebih mempererat persaudaraan dan menyatukan kembali keturunan Wretikandayun, keduanya dijodohkan dengan cicit Demunawan. Manarah dijodohkan dengan Kancanawangi dan Banga dengan Kancanasari, adik Kancanawangi.


Dari perkawinan dengan Kancanasari, manarah mempunyai beberapa orang putri, iapun kemudian diganti oleh menantunya, Manisri, suami dari Puspasari. Karena tidak diketahui asal-usulnya, maka didalam Cerita Lutung Kasarung, Manisri dianggap sebagai Putra Sunan Ambu, sedangkan Puspasari bernama Purbasari.

Rupanya keturunan Manarah sangat sulit memperoleh anak laki-laki dan keturunan, karena ketika Linggabumi cicit dari Manarah, terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada Rakeryan Wuwus, raja sunda keturunan Banga, suami adiknya

Lainnya halnya dengan Banga, ia berhasil menaklukan raja-raja disekitar Citarum, untuk kemudian iapun melepaskan dari Galuh dan menjadi negara merdeka. Hingga Sunda menjadi sederajat dengan Galuh. Iapun dikarunia keturunan yang tidak terputus, bahkan cicit Banga , yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon, yang menjadi Raja Sunda ke-8. Diserahi menjadi raja Galuh, karena Lingga Bumi, keturunan Manarah tidak mempunyai keturunan.

Panutup
Setelah perjanjian dilaksanakan, dan Balangantrang berhasil mengantar Manarah, menjadi raja di Galuh, Balangantrang kembali ke Geger Sunten. Tentunya sekarang tidak lagi perlu bersembunyi seperti ketika ia bergerilya. Tinggalah Manarah yang dibantu anak-anak muda, melanjutkan tugasnya untuk mengemban hidup dan kehidupan. Aki Balangantrang masih hidup dengan para juru pantun, sekalipun raganya sudah tak lagi ada.

Cag heula. Pamuga jaga aya nu ngorehan carita jeung bebenerana (***).

Dari berbagai sumber.

MOHON MAAF

Untuk perbaikan dan saran anda dimohon untuk meninggalkan pesan, hasil dan jawabannya dapat dilihat di BLOG SANG RAKEAN. Hatur Nuhun







Rajah Karuhun by Agus 1960