Senin, 11 April 2011

Uga

Uga dikalangan masyarakat tradisional Sunda dipahami se bagai ramalan atau petuah dari leluhur, menyangkut kondisi sosial politik dan sosok pemimpin yang diharapkan. Uga termasuk tradisi lisan masyarakat Sunda yang disampaikan secara lisan, menggu nakan bahasa siloka, atau simbol-simbol yang perlu ditafsirkan. Pencetus Uga adakalanya anonim, namun diyakini bersumber dari karuhun yang dianggap memiliki kelebihan, terutama dalam masa lah spiritualitasnya. Contoh Uga :
Daréngékeun !
Jaman bakal ganti deui. Tapi engké, lamun Gunung Gedé ang eus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajaja gat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Ha dé deui sakabéhanana. Sana gara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Tapi ratu saha ? Ti mana asal na éta ratu ? Engké ogé dia nyaraho. Ayeu na mah, siar ku dia éta budak angon!
Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!
Dengarkan !
jaman akan berubah lagi. Tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi.
Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Negara, jaya lagi, sebab
berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.
Tapi ratu siapa? darimana asal nya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.
Silahkan pergi, ingat jangan me noleh kebelakang!
Uga tersebut diyakini berasal dari Prabu Siliwangi. Saat ini bukan lagi merupakan rahasia, karena beredar di dunia maya dan maka banyak di perbincangkan di kalangan peminat mistis. Di sebutkan sebagai amanat dari Prabu Siliwangi sebelum ngahiyang (tilem), ditujukan kepada rakyatnya yang ikut mundur diserang musuh. Jika ditelaah lebih lanjut, terutama masalah waktu dike luarkannya, memang membuahkan pertanyaan, karena jika yang dimaksud Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga, maka Pajajaran se dang berada di puncak keemasan, sedangkan kekalahan Pajaja ran masih berselang sekitar lima raja lagi, kecuali jika raja Pajaja ran terakhir, yakni Ragamulya Suryakancana dianggap Prabu Siliwangi.
Uga lahir dan berkembang di masyarakat agraris tradisional. Saat ini hanya terbatas dikalangan orang-orang tua peminat masa lah mistis-spiritual, atau dijadikan acuan bagi para politikus tradisio nal sebagai sumber informasi. Dalam tradisi masyarakat jawa tradi sional dikenal juga ramalan Jayabaya, atau lajim dikenal Pralam bang Jayabaya. Selain itu ada juga Ramalan Sabda Palon Naya genggong, intinya semacam ramalan dan ajaran yang disampai kan Sabda Palon kepada Brawijaya, raja Majapahit terakhir. Uga dan Pralambang Jayabaya sangat dibutuhkan ketika  negara akan menghadapi perubahan kepemimpinan, disangkutkan dengan so sok pemimpin yang diharapkan dan ideal sesuai persepsinya, seperti masalah ratu adil, satria piningit (calon pemimpin) maupun kondisi sosial politiknya.
Contoh Uga
Uga diungkapkan dalam bentuk siloka atau simbol-simbol, dan menekankan pada unsur waktu peristiwa yang akan terjadi, seperti dalam istilah : Geus nepi kana ugana (sudah sampai pada uganya, atau sudah tiba waktunya sesuai yang diramalkan uga). Kata-kata tersebut menekankan tentang waktu ramalan itu akan terbukti. Seperti contoh dari Uga Prabu Siliwangi,: Tapi engké, la mun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung (tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung), menunjukan waktu ramalan uga akan tiba jika Gunung Gede meletus dan tujuh gunung lainnya, namun waktu meletusnya be lum pasti.
Di tatar pasundan lebih dari empat Uga yang diyakini kebera daannya, seperti :
1.     Uga Kawasen, mengungkapkan, : ari nu bakal jadi ratu, baju butut babadong batok, anu jolna ti Gunung Surandil, bandera na karakas Cau (yang bakal menjadi ratu/raja atau pemimin negara, berbaju rombeng, menggunakan topi tempurung, yang datang dari Gunung Su-randil [mungkin gunung serandil ?] berbendera daun pisang).
2.    Uga Galunggung menyebutkan, : Sunda nanjung lamun pulung turun ti Galunggung (Orang Sun da akan jaya jika pulung turun dari Galunggung).
3.    Uga Bandung menyebutkan : Sunda nanjung, lamun nu pun dung ti Bandung ka Cikapundung geus balik deui (orang Sun da akan jaya, jika yang merajuk dari Bandung ke Cikapundung kembali lagi).
4.    Uga Prabu Siliwinangi, mengungkapkan : Daréngékeun ! Ja man bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé ang geus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati. (Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati).
5.    Ada juga yang disebut Uga Priangan, isinya menyangkut ten tang ramalan akan adanya perubakan kondisi politik, dilengka pi dengan tanda-tandanya.
Menafsirkan Uga
Uga bisa ditafsirkan secara verbal dan kontekstual. Penaf siran verbal menitik beratkan kepada soal bahasa, pembendaha raan kata, tata bahasa, dan terjemahan yang tepat, sedangkan penafsiran konstekstual merupakan upaya untuk memahami arti ungkapan dengan melihat situasi di mana dan kapan ramalan ini ada, tentunya melalui cara memahami data histori di mana dan ada kondisi yang bagaimana ketika uga itu di buat (Nina  H. Lubis : 2006).
Contoh dalam menafsirkan bagian akhir Uga Wangsit (wa-siat) Prabu Siliwangi, seperti pada kalimat, sebagai berikut :
jaman akan berubah lagi. Tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi se luruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sun da memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Negara, jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? dari mana asalnya sang ratu ? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala. Silahkan pergi, ingat jangan me noleh kebelakang !
Dari kalimat  jaman akan berubah lagi. Tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi selu ruh bumi, mengandung siloka dan ramalan, bahwa : akan ada perubahan kondisi atau keadaan. Sedangkan Gunung Gede mele tus. Ribut lagi seluruh bumi, dapat ditafsirkan akan muncul suasa na yang mencemaskan, membuat masyarakat panik, bisa karena peristiwa alam, seperti bencana alam atau munculnya huru hara yang ditimbulkan oleh manusia, atau akibat dari kebijakan pengua sa yang menimbulkan ketidak senangan rakyat dan memicu keru suhan sosial. Dalam paradigma masyarakat Jawa tradisional dise but goro-goro.
Kesejarahan dari kondisi sebagaimana yang diramalkan di atas bukan hanya koridor dunia mistis-spiritual, melainkan suatu hal yang realistis jika menggunakan teori dialektikanya Hegel, di mana thesa (kondisi yang telah mapan) akan selalu berhadapan dengan antithesa (kondisi yang menginginkan perubahan) untuk kemudian melahirkan sintesa (kondisi baru). Dalam hal ini. Perlu ada kemampuan dan pengetahuan untuk mengetahui siloka-siloka yang terkandung di dalam kata-kata uga tersebut.
Kalimat selanjutnya : Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali” dapat ditafsirkan, bahwa sehubungan dengan peristiwa diatas (adanya kepanikan, sebagaimana disilokakan dalam kalimat gu nung gede meletus), maka orang Sunda akan dimintakan pertolo ngan (orang sunda dipanggil-panggil), baik untuk bersatu bersa ma-sama komponen warga bangsa lainnya, maupun karena ke mampuannya menyelesaikan persoalan tersebut. Ketika orang Sunda memiliki kemauan untuk bersatu atau tampil sebagai penye lesai persoalan maka di tafsirkan sebagai sudah “memaafkan”, ka rena mungkin orang Sunda pernah disakiti atau kecewa. Jika hal ini terjadi “maka semua baik lagi dan negara bersatu kembali”.
Siloka dari ramalan ini tidak serta merta berjalan dengan sen dirinya, melainkan masih diperlukan unsur kemampuan dan ke mauan dari orang Sunda dalam menyelesaikan persoalan, seperti dari kalimat “Orang Sunda memaafkan” menunjukan pada sifatnya yang harus ada kemauan dari orang Sunda untuk memaafkan, se hingga menimbulkan empatinya untuk menyelesaikan kekacauan.
Siloka dari : “Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati”, mengandung makna : negara jaya kembali, sebab akan ada (lahir) ratu adil yang amanah, mengerti kemauan rakyat, pemimpin sejati, sesuai dengan keinginan masyarakat. Timbulnya ratu adil adalah hasil akhir dari tuntutan rakyat (sintesa). Tuntutan (antitesa) dimaksud berbentuk kerusuhan, unjuk rasa, huru hara yang mencemaskan masyarakat (siloka : Gunung Gede meletus).
Kemudian siloka dari kalimat : “Tapi ratu siapa? dari mana asalnya sang ratu ? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala. Silahkan pergi, ingat jangan meno leh kebelakang !”, mengandung makna, bahwa ratu adil yang di maksud masih dirahasiakan. Disinilah kemudian banyak ditafsir-kan sebagai Satria Piningit seorang calon pemimpin atau Ratu Adil yang benar-benar telah ditempa sehingga mumpuni untuk menjadi pemimpin yang sejati, keberadaannya akan diketahui kemudian.
Selanjutnya dari siloka :” Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala. Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang !”, me-ngandung siloka : adanya kewajiban warga sunda untuk mencari pemuda yang mengasuh atau mengayomi masyarakat. Mungkin menunjukan agar tepat memilih pemimpina. Si pemuda tersebut bukan berarti otomatis menjadi ratu adil, melainkan sebagai sara na yang akan menunjukan atau yang akan mengarahkan pene muan ratu adil. Sedangkan perintah dengan kalimat :” ingat jangan menoleh kebelakang”, mengandung siloka, agar tidak melihat ke masa lalu, karena mungkin dimasa lalu ada peristiwa yang menya kitkan, jika diingat-ingat akan menimbulkan dendam atau ketidak nyamanan.
Suatu data yang khas dari Uga ini adalah digambarkannya situasi sosial yang semrawut. Para pemimpin dan kepemimpinan silih berganti. Digambarkan ada keserakahan dari yang berkuasa. Timbulnya kondisi-kondisi yang menyengsarakan dan menakutkan orang Sunda, sehingga diakhir Uga dipesankan tentang akan adanya perubahan. Inilah suatu keniscayaan.
Sebagaimana penulis uraikan diatas, ramalan Uga seperti diatas bukan hanya dapat ditafsirkan melalui kerangka berpikir mistis-spiritual, melainkan dapat juga dutafsirkan berdasarkan koridol yang rii dan rational sesuai dengan keyakinan pemikiran masyarakat modern, bahkan dapat dibuat dan dirumuskan dalam bentuk rencana strategi, dengan menggunakan teori dialektikanya Hegel. Kondisi yang diramalkan dan di silokakan Uga diatas ada lah suatu keniscayaan. Hanya saja, siapa yang berperan aktif di dalam perubahan sosial tersebut. Jika menginginkan tampil seba gai pemimpin, maka perubahan itulah yang dapat menjadi kawah Candra Dimuka bagi sang Satria Piningit.
Contoh lainnya dari Uga Galunggung, menyebutkan, : Sunda nanjung lamun pulung turun ti Galunggung (Orang Sunda akan jaya jika pulung turun dari Galunggung). Uga ini menurut hemat penulis mengandung siloka tentang pulung dari Galunggung. Istilah pulung didalan pemahaman orang Sunda sama dengan pungut. Namun nampaknya, sang ideolog atau pencipta uga ini ti dak bertujuan demikian, melainkan memahami istilah pulung seperti yang ada didalam paradigma masyarakat Jawa. Istilah puluh akan didengar ketika menghadapi pemilihan Presiden, atau pemimpin. Puluh dipersepsikan sebagai cahaya putih yang akan menuju kerumah atau kepada calon pemimpin tersebut. Bisa jadi istilah pulung yang dimaksud dalam Uga Galunggung sama deng an yang dimaksud masyarakat Jawa.
Istilah Galunggung tentunya tidak asing lagi bagi masyakat Tasikmalaya. Dalam kesejarahannya merupakan bagian atau pu sat dari pemerintahan kerajaan yang bersifat Kabataraan, banyak peninggalan-peninggalan tentang ajaran kebajikan, serta menjadi Kabuyutan Sunda, dikenal sebagai pusat keagamaan. Kerajaan Galungung dimasa lalu berfungsi sebagai negara yang ngabiseka Galuh. Artinya raja-raja Galuh akan syah menjadi raja jika direstui kerajaan Galunggung. Banyak hal yang bisa dibuka dari Siloka Uga Galunggung, baik yang terkait dengan masalah fisik kenega raan, seperti tentang kewajiban mempertahankan Kabuyutan atau mempertahankan negrinya dari penguasaan asing, serta kewaji ban untuk mentaati Purbatisti-purbajati, atau nlai-nilai Kasundaan. Siloka dari Uga Galunggung dapat ditafsir kan : (1) Jika Ki Sunda mengetahui jatidirinya maka akan menemu kan kejayaannya ; (2) Jika Ki Sunda memiliki kebersihan hati dan selalu menjalan keten tuan yang telah digariskan Tuhan maka akan menemukan kejaya annya ; (3) Jika Ki Sunda di ridhoi Tuhan dalam kehidupannya, ma ka akan menemukan kejayaannya.
Uga Bandung menyebutkan : Sunda nanjung, lamun nu pun dung ti Bandung ka Cikapundung geus balik deui (orang Sunda akan jaya, jika yang merajuk dari Bandung ke Cikapundung kem bali lagi). Uga ini menyiratkan adanya pihak yang merasa sakit hati sehingga meninggalkan Bandung dan menuju Cikapundung. Padahal Sungai Cikapundung berada di kota Bandung. Siloka ini menyiratkan, bahwa Orang Sunda akan jaya kembali jika orang yang sakit hati dan meninggalkan Bandung (kotanya) kem bali lagi dan mengelola negerinya.
Siloka dari Uga Bandung dapat pula ditafsirkan, bahwa ada pihak yang frustasi atau merajuk (pundung) akibat sesuatu, sehingga lantas menghanyutkan diri dalam kondisi yang ada, se-hingga tidak perduli terhadap negerinya. Pihak yang hanyut itu harus di ingatkan dan diobati sakit hatinya, agar dapat bersama-sama mengolah dan memakmuran negeri. Dalam arti sempit da pat ditafsirkan, bahwa orang Bandung sudah tersingkirkan dari kotanya dan hanyut dalam kesemrawutan. Jika Kota Bandung ingin maju pesat, maka harus diurus oleh orang Bandung sendiri.  Demikian. Hatur punten bilih aya kalepatan. Tabe Pun !!! (***).

Hatur Punten :

Untuk perbaikan dan saran anda dimohon untuk meninggalkan pesan, hasil dan jawabannya dapat dilihat di BLOG SANG RAKEAN. Hatur Nuhun