Agama urang Sunda buhun sampai sesat ini masih hangat dan menarik untuk diperbincangkan, adakalanya disebut agama Buda, atau agama Hindu, bahkan ada pula yang menyebut islam Wiwitan. Sedangkan para filolog, seperti Ekadjati (2005), Atja dan Saleh Danasismita (1987) menyebutnya ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan. Isitilah agama Jati Sunda ditemukan di dalam naskah Carita Parahiyangan. Naskah tersebut diperkirakan dibuat pada tahun 1580 masehi, menurut CM. Pleyte 1500 AD. Istilah Jati atau Wiwitan memiliki makna yang sama, yakni mula; pertama; asli, dengan demikian pengertian agama Jati Sunda atau Sunda Wiwitan bermakna agama (urang Sunda) asli atau tulen. (Ekadjati: 2005, hal. 181).
Sumber-sumber sejarah menunjukkan adanya keperca yaan asli Sunda yang telah mapan dalam kehidupan masya rakat Sunda, baik sesudah maupun sebelum masa Pajajaran terbentuk. Naskah Carita Parahyangan mendeskripsikan adanya pendeta Sunda yang menganut agama asli Sunda (nu ngawakan Jati Sunda). Mereka mempunyai tempat kegiatan, atau semacam tempat suci yang bernama kabuyutan parahyangan, suatu hal yang tidak dikenal dalam agama lain, bahkan membedakan dengan Kabuyutan Lemah Dewasasana. Naskah Carita Parahyangan juga menceritakan mengenai kepercayaan umum raja-raja Sunda-Galuh adalah sewabakti ring batara upati dan berorientasi kepada kepercayaan asli Sunda.
Selain naskah Carita Parahyangan, keberadaan keyakinan Jati Sunda pada masa lampau dikisahkan para prepantun Bogor, seperti Aki Buyut Baju Rambeng. Menurut Ki Panjak (1970), Pantun Bogor (Pajajaran Tengah) berisi tentang Uga yang hanya dapat dibaca (dipahami) kisahnya jika dikalbunya tertanam rasa kasundan. Dalam kisah Curug Si Pada Weruh, diceritakan keberadaannya, bahwa :
Saacan urang Hindi ngaraton di Kadu Hejo ogeh, karuhun urang mah geus baroga agama, anu disarebut agama Sunda tea. (Sebelum orang Hindi (Hindu-India) bertahta di Kadu Hejo pun, leluhur kita telah memiliki agama, yakni yang disebut agama Sunda).
Kisah dan istilah urang Hindi di Kaju Hejo yang dimak sudkan adalah para penguasa Salakanagara. Mungkin lebih tepatnya jika disebutkan untuk Dewawarman I, pengganti Aki Tirem. Pada masa tersebut terjadi pergantian penguasa dan status wilayah, dari nama kota yang dipimpin seorang peng hulu (Aki Tirem) menjadi kerajaan Salakanagara yang dipim pin seorang raja bernama Dewawarman. Menurut Naskah Wangsakerta (1677) kerajaan Salianggap kota dan kerajaan tertua di Pulau Jawa, bahkan di Nusantara. Pada masa ini pula pertanda kebudayaan di tatar ini bersentuhan dengan budaya dari India.
Masyarakat dan para sejarawan banyak yang memper sepsi agama Sunda buhun dari agama yang dianut keratonnya, seperti Tarumanagara yang meninggalkan prasasti, atau menarik kesimpulan dari tradisi yang dilakukan orang Sunda dalam kesehariannya dianggap sama dengan saudara-sauda ranya yang beragama Hindu. Apalagi sejarah di tatar Pasundan, sejak Dewawarman 1, berkuasa di Salakanagara, pernah bersentuhan dengan India. Tapi jika ditelusuri dengan memi lah perkembangan agama yang dianut keraton dengan yang dianut rakyatnya, niscaya akan ditemukan perbedaannya. Pengecualiannya terjadi pada jaman Pajajaran dan Galuh. Pada masa ini telah nampak adanya persamaan, sebagaimana dida lam naskah Kawih Paningkes.
Keterangan dari Fa-shien, pendeta Buda dari Cina yang menulis buku berjudul Fa-Kao-Chi, menjelaskan, selain banyaknya penganut Hindu juga masih banyak penduduk yang menganut agama leluluhurnya. Contoh yang kedua, pada masa Rajaresi, Raja Tarumanagara kedua (382 M), pemerintah berupaya merubah keberagamaan masyarakat, dari agama nenek moyangnya menjadi agama yang dianut Rajaresi, namun masih banyak penduduk disekitar kerajaan yang tetap menganut agama nenek moyangnya.
Pendapat tentang perbedaan yang dianut keraton dengan agama rakyatnya ditulis di dalam buku Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (1983-1984). Menurut para penyusun buku tersebut: agama orang Sunda adalah hasil bauran dari agama Hindu dan Buda yang diracik dalam konsep agama asli (Nusantara). Tentang pemeluk agama Hindu, baik pendapat Wangsakerta (1677) maupun Pleyte (1905) menjelaskan, bahwa hal itu hanya berlaku dalam lingkungan keraton dan para pejabatnya, sedangkan rakyat masih tetap setia kepada agama ajaran leluhur. Didalam naskah Wangsakerta disebut pitarapuja.
Pada masa kerajaan Sunda dan Galuh sampai dengan Pajajaran Sirna Hing Bumi Pasunda, masyarakat Sunda dan keraton sudah mulai nampak kebersamaan dalam beragama, namun pengaruh dari agama Buda dan Hindu masih ada. Pengaruh demikian dicatat dalam Naskah Sanghyang Siksa Kan dang Karesyan, pedoman hidup pada masa itu (kundangan urang reya). Naskah tersebut mengakui adanya ajaran leluhur dan menyebutkan adanya Batara Seda Niskala, dianggap Yang Hak dan Yang Wujud. Penemuan Tuhan semacam keyakinan terhadap Hiyang bagi masyakat Sunda lama bukan penemuan baru, namun di lingkungan keraton keyakinan terha dap sesuatu yang maha tinggi pernah kasilih setelah masuk nya budaya India, sehingga tulisan ini diberi judul Balik Ka Hiyang (Kembali Ke Hiyang).
Hiyang atau Sanghiyang didalam Ensiklopedia Sunda, di tujukan untuk menyebutkan penghuni kahyangan, dalam cerita wayang menjadi penghuni para dewa. Menurut pendapat lain, Parahyangan tempat tinggalnya Hiyang sedangkan Nirwana tempat tinggal para Dewa. Padahal dua sakarupa. Yang Maha kuasa menurut kepercayaan Sunda lama adalah Sang hyang Keresa. (Maha Pencipta), disebut juga Batara Tunggal (Yang Esa), atau Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Semua Dewa Hindu yang datang kemudian, tunduk kepadanya. Oleh karena itu didalam Dasa Prebakti, Sanghiyang di tempatkan lebih tinggi derajat dari Dewa-dewa. Istilah Sanghiyang adaka lanya digunakan pula untuk menyebut orang atau makhluk yang dihormati, seperti Sanghiyang Lutung Kasarung, Sanghiyang Sri, Sanghiyang Borosngora dan lain-lain.
Penduduk Pasundan Awal
Didalam buku Sejarah Tuhan, Karen Armstrong mengu raikan tentang bagaimana tiga agama samawi selama 4.000 tahun menemukan Tuhan Yang Esa, diungkapkan melalui sejarah perkembangan pemikiran masyarakat penganutnya, sehingga sejarah itu sendiri dapat dicerna secara utuh. Memang judulnya terasa provokatif, karena Tuhan tidak berawal dan tidak berakhir, maka Tuhan tidak memiliki sejarah karena Tuhan yang menciptakan Sejarah dan Tuhan Causa Prima. Jika saja timbul adanya kesejarahan yang terkait dengan keyakinan, itupun hanya menyangkut sejarah manusia tersebut didalam menemukan Tuhannya sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.
Sejarah pemikiran suatu komunitas tidak dapat dipisahkan dari sejarah penduduk dan lingkungannya. Demikian pula sejarah keyakinan Sunda buhun, dengan terlebih dahulu perlu melihat histori kebaradaan masyarakat Pasundan. Menurut naskah Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara yang disusun oleh Panitia Wangsakerta, memaparkan, bahwa di Pulau Jawa pernah hidup enam jenis manusia purba, yakni :
1 | Satwapurusa, | Manusia setengah hewan yang hidup ki ra-kira 1.000.000 hingga 600.000 tahun lalu. |
2 | Bhutapurusa, | Manusia hewan, berjalan seperti manu sia, kulit merah hitam, hidup 750.000 - 300.000 tahun, musnah 250.000 tahun lalu. |
3 | Yaksapurusa, | Manusia raksasa berbadan tegap besar dan tinggi, berwarna hitam, dari luar nu santara. |
4 | Manusa Yaksa, | Berbentuk separuh manusia separuh raksasa bertubuh lebih kecil dari yaksa-pu rusa, berkulit hitam berbulu, hidup di Jawa barat dan jawa Tengah musnah di bi nasakan para pendatang. |
5 | Warmama-purusa, | Manusia bertubuh kecil, hidup sekitar 50.000-20.000 tahun lalu, mengguna kan perkakas hidup terbuat dari batu dan bahan yang lekas rusak. |
6 | Manusa-purwwa | Manusia purba bertubuh kecil, hidup di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 40.000-200.000 tahun yang lalu, mus nah karena bencana alam, peperangan dan dibinasakan oleh pendatang baru. |
(Atja & Edi S. Ekadjati, 1987 : 22). |
Khususnya disekitar danau Purba (Bandung), pada seki tar 6.000 tahun yang lalu telah ada masyarakat yang mene tap seperti manusia sekarang. Penelitian tersebut dilakukan oleh GHR von Koenigs wald, AC de Jong, dan W. Rothpletc pada tahun 1945 dan menemukan benda budaya prasejarah dalam jumlah banyak, berupa alat-alat neolitik, seperti alat mi krolit, batu obsidan, alat serut, alat serpih dan lainnya. Benda benda tersebut ditemukan di dua puluh tiga lokasi. Diperkirakan pada masa tersebut berada di tepian danau purba, seperti Dago Pakar, Ujungberung, Majalaya, Cililin, Soreang, bahkan menurut Arkeologi Nasional (1978), situs Dago Pakar berfungsi sebagai bengkel alat-alat neolitik.
Teori lainnya menyatakan masa awal, yakni jaman Paleolitikum, masyarakat yang hidup di daerah ini tergantung kepada alam. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka memanfaatkan segala sesuatu yang tersedia dialam. Mereka hidup sebagai pengumpul makanan (good gatehring). Seperti berburu binatang, memetik daun, bunga, buah, serta men cungkil umbi-umbian. Memang fosil atau kerangka manusia yang berasal dari jaman neolitik belum ditemukan di Indonesia, akan tetapi mendasarkan pada perbandingan dengan manusia pendukung kebudayaan bercocok tanam di Muangthai, Vietnam, Malaysia, dapat diperkirakan manusia yang hidup di tatar Sunda adalah ras Mongoloid. Ras ini bersama ras Austra lomelanesid berada di Indonesia sejak awal masa Holosen, 10.000 tahun lalu, memiliki ciri fisik sesuai dengan penduduk Indonesia dewasa ini. (Ekadjati : 2005).
Didalam perdebatan tentang keberadaan Atlantis yang dianggap Sundaland, Santos (1997) berpendapat, sekalipun ditemukan kerangka manusia yang berumur jutaan tahun, seperti jenis Meganthropus paleojavanicus, Pithecantropus Erectus, dan berbagai macam homo, seperti Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, kurang membangun teori asal usul peradaban. Sejarah selalu mencatat bahwa induk peradaban manu sia modern itu berasal dari Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani, karena wilayah ini menyimpan banyak artefak dan peninggalan tertulis. Namun harus pula di perhitungkan keberadaan Atlantis yang tenggelam dengan peradaban yang jauh lebih tinggi berada di Asia Tenggara.
Pendapat Santos tersebut berkaitan dengan pendapat dari Oppenheimer (1996), seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Dalam buku Eden In The East menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia. Artinya nenek moyang bangsa-bangsa di dunia atau induk peradaban modern sekarang berasal dari Indonesia dan menyebar kese luruh penjuru Bumi. Dalam teorinya, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu menjadi satu kesatuan dengan sebutan Sundaland. Karena mengalami banjir berkali kali akibat melelehnya es di Kutub, wilayah ini terpisah oleh lautan.
Dalam sebuah pertemuan di LIPI, Oppenheimer mengatakan teorinya dibangun dengan menempuh cara melakukan kajian kedokteran (DNA), geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, dan folklore. Ilmu-ilmu ini, terutama geologi, mengemu kakan alasan adanya Sundaland yang dulu bersatu. Yang pertama dikemukakan adalah naiknya permukaan air laut sebanyak tiga kali di wilayah ini antara 14.500 sampai dengan 7.200 tahun (sebelum Masehi), yang menenggelamkan Paparan Sunda (Sundaland). Teori ini adaalah teori umum yang sering dikemukakan para geolog. Agak sulit untuk melihat mengapa ada beberapa penentangan terhadap konsep yang sebenarnya sudah diterima oleh para geolog dan para sarjana lainnya sejak lama. Hasil dari kajian genetika, Oppenheimer menjelaskan, bahwa dari Paparan Sunda yang terpecah ini, menyebar kehidupan dengan cara menyeberang laut.
Penyebaran manusia juga ada yang menuju ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia hingga ke Euroasia. Dalam pandangan Oppenheimer, orang Sumeria peletak dasar pera daban di Mesopotamia berasal dari Asia Tenggara. Pendapat ini mendasarkan pada kesamaan benda-benda Neolitik seki tar 7.500 tahun lalu yang menjadi salah satu bukti. Ciri fisik orang Sumeria yang bermuka lebar dan wajah tipikal orientalis menjadi bukti lainnya. Disamping itu, teori genetikanya me nyebutkan 90 persen penduduk Paparan Sunda telah ada se jak 5.000 hingga 50.000 tahun lalu, bahkan beberapa di anta ranya sebelum zaman es mencair dan menenggelamkan wilayah ini. Derajat keberlanjutan genetik tersebut membantah pandangan ortodoks, bahwa para petani padi Taiwan ber bahasa Austronesia secara esensial menggantikan penduduk terdahulu dari Paparan Sunda 3.500 tahun yang lalu.
Menurut terori sebelumnya, Sundaland belajar pertani an, peternakan dan menangkap ikan dari orang-orang Taiwan yang berbahasa Austronesia sekitar 3.500 tahun yang lalu. Padahal menurut Oppenheimer, sejak ribuan tahun sebelumnya mereka telah memiliki nilai-nilai neolitik. Mereka sejak ribuan tahun lalu telah memiliki keahlian sebagai nelayan. Dari kaji an linguistik yang mempelajari bahasa asli dari Sundaland, yaitu bahasa Austronesia, istilah pelayaran berasal dari Asia Tenggara, bukan dari Taiwan.
Bukti lainnya dari teori Endapan Rawa yang dikemuka kan oleh Eko Yulianto, ahli geologi LIPI yang menyebutkan, bahwa apa yang dikemukakan Oppenheimer memiliki bukti yang kuat dari teori geologi. Pengeboran yang dilakukan di Laut Jawa pada kedalaman 9,7 meter menemukan endapan rawa. Umur endapan diperkrirakan sudah mencapai 6.000 tahun yang lalu. Di laut sebelah selatan Pulau Jawa, ditemukan fosil serbuk sari sisa dari tanaman jenis rumput-rumputan (graminae). Diduga serbuk sari ini berasal dari padi atau tum buhan sejenis. Lebih lanjut dikatakan teori Sundaland benar adanya. Dari kedalaman laut di wilayah ini terlalu dangkal jika dibandingkan dengan kedalaman laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Aru, dan lainnya. Kedalaman lautan di bekas wilayah Sundaland ini hanya berkisar 10-30 meter.
Didaratan, teori tentang manusia purba dengan perada bannya yang tinggi bisa ditemukan di Gua Pawon di Bandung. Dari perkakas dan bahan bakunya sangat beragam, mulai da ri batuan obsidian yang hanya bisa ditemukan di Nagrek, Garut atau Sukabumi. Jika ditelaah lebih seksama dari ketinggi an, wilayah Gua Pawon dan Nagrek dimungkin dahulunya se bagai daerah yang berada di tepian Danau Purba Bandung.
Penemuan Awal
Dari data-data sejarah, arkeologi dan filologi, terutama dari sisa peninggalan megalitik dan naskah-naskah buhun, Para arkeolog dan sejarawan membahas tentang adanya keyakinan masyarakat Sunda Buhun terhadap kekuatan ‘nu gaib’. Persepsi dan kesimpulan demikian di mungkinkan mendasar kan pada sejarah pemikiran manusia ketika menemukan Tuhan, semacam histori materialisme.
Ekadjati (2005) menguraikan penemuan istilah nu Gaib, bermula dari rasa hormat Ki Sunda terhadap para pemimpin nya dan orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan. Penghormatan demikian rupanya tidak mengenal batas waktu, bahkan setelah meninggalpun masih tetap dihormati, akhirnya menjadi tradisi. Kebiasaan menghormati leluhur demikian di dalam paradigma barat dikatagorikan sebagai penyembah roh nenek moyang atau animisme.
Pendapat tentang katagorisasi animisme terhadap keyakinan leluhur Ki Sunda, menurut Engkus Ruswana di dalam Pikiran Rakyat Sabtu 14 Juni 2003, dijelaskan sebagai berikut :
..... mengenai kepercayaan leluhur bangsa yang disebut meng anut animisme dan dinamisme. Dalam hal ini, kita perlu arif dan berpandangan luas, kenapa timbul kedua istilah yang seolah-olah meren dahkan derajat dan kepercayaan leluhur, yang pengertian secara harfiah adalah menyembah nenek moyang dan menyembah kebendaan.
Kiranya patut direnungkan sedangkal itukah penghayatan leluhur kita terhadap arti dan hakikat ketuhanan, kemanusiaan, dan alam. Padahal, leluhur kita tinggal di bumi yang subur makmur Loh Jinawi. Sumber pangan yang disediakan alam lebih dari cukup dan tinggal ambil apalagi penduduknya masih sedikit sehingga cukup banyak waktu untuk merenung, berpikir, berdialog, dan mengkaji tentang alam dan penciptanya serta berkreasi untuk mengembang kan budayanya.
Terbukti dari hasil penelitian Nandang Rusnandar (peneliti dari Jarahnitra Jawa Barat) bahwa di tatar Sunda telah ditemukan 54 jenis huruf (Wanda Aksara) dalam budaya tulisan dan penelitian Ali Sastramijaya yang menyimpulkan leluhur bangsa kita sudah sejak ribuan tahun telah mengenal budaya sistem penanggalan yang didasarkan atas perhitungan mata hari (kala Sunda), perhitungan bulan (kala Candra) dan perhi tungan bintang (Kala Sukra) dengan presisi tinggi yang nota bene didasarkan atas penelitian/pengkajian alam secara seksama dan terus menerus selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun melewati berbagai generasi.
Menurut Ekadjati (2005), keinginan untuk menghormati arwah leluhur dan kekuatan gaib lainnya diwujudkan dalam bentuk bangunan batu besar (megalitik). Sekalipun demikian, bukan berarti menyembah batu, namun hanya semacam mediator. Dalam penemuan terakhir dikomplek Kawali diketahui adanya batu kolenjer, namun menurut beberapa pendapat, batu tersebut adalah Yantra, suatu alat yang biasa digunakan untuk membantu mengkonsentrasikan diri dalam melakukan ritual terhadap Tuhan. Karena modal penting untuk menjalin hubungan dengan yang Gaib adalah kesungguhan hati, kehidmatan didalam keheningan alam sekitar. Di tempat-tempat itulah penghormatan dilakukan. Menurut Asmar (1970; 1975) dari upacara ritual diharapkan muncul tenaga-tenaga gaib yang dipancarkan oleh alam yang memberikan kekuatan serta kesejahteraan hidup; kesuburan tanah; serta keselamatan dalam mencari nilai-nilai hidup yang baru.
Tradisi menghormati nenek moyang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Sunda selanjutnya. Sampai seka rang batu menhir yang ada di Kabuyutan Kanekes dipercaya sebagai awal mula kehidupan masyarakat Baduy (Ekadjati : 2005). Peninggalan megalitik masih terlihat dari banyak pe ninggalan megalitik di tatar Sunda, seperti Arca Domas, Cibe dug, Pasir Angin, Kampung Muara, Bukit Kasur, Gunung Pa dang dan tempat lainnya. Pada umumnya berada di tempat yang tinggi didaerahnya, bahkan peninggalan Megalitik terbesar di Asia Tenggara berada di Gunung Padang Cianjur. Bangunan megalitik disusun menurut sistim timur-barat yang melambangkan perjalanan hidup manusia. Timur adalah tempat mata hari terbit yang melambangkan kelahiran; barat tempat matahari terbenam melambangkan kematian. Perjalanan matahari dari timur kebarat melambangkan perjalanan hi dup manusia.
Dari hal diatas para akhli menyimpulkan, bahwa sejak masa neolitikum masyarakat di tanah Sunda sudah mengenal Yang Gaib sebagai jiwa yang lepas dari raga manusia yang meninggal, namun tidak pergi jauh, berada di sekitar tempat tinggal sewaktu masih hidup, hanya sebagai roh yang gaib. Arwah leluhur diyakini dapat memancarkan kekuatan gaib yang berdampak baik maupun buruk, sangat tergantung kepada cara perlakuan manusia yang masih hidup terhadap arwahnya. Agar arwah memancarkan kebaikan dan dapat mencegah kekuatan gaib yang bersifat buruk maka dilakukan acara acara ritual penghormatan. Penghormatan demikian sangat tergantung kepada masing-masing kelompok atau individu, karena sampai sekarang tidak diketahui, cara-cara ritual yang dilakukan pada masa lalu, kecuali dari upacara-upacara yang dilakukan masyarakat Baduy.
Pada periode selanjutnya di tanah Pasundan bersentuhan pula dengan budaya dari India, yang membawa agama Hindu dan Buda. Periode ini secara resmi dapat diketahui da lam pengaruhnya terhadap berdirinya kerajaan-kerajaan di Pasundan awal, seperti Salakanagara, Taruma nagara dan Kendan. Sekalipun demikian, masyarakat asli masih banyak yang tetap tuhu menganut keyakinan yang dianut leluhurnya. Keterangan demikian berdasarkan pada berita Fashien, seorang pendeta Budha dari Cina yang terdampar di Tarumanagara pa da tahun 413 M, selama lima bulan menetap di Ya-va-di (pu lau Jawa). Fashien lebih banyak melihat Brahmana dari pada pendeta-pendeta Budha, bahkan menyebut masih banyaknya penduduk yang menganut agama nenek moyangnya. Kisah nya ditulis dalam buku yang berjudul Fa-Kao-Chi. Berita selanjut nya dari naskah Wangsakerta (1677).
Pada masa pemerintahan Rajaresi, Raja Tarumanagara kedua (382 M), berupaya merubah cara keberagamaan masyarakat, dari agama nenek moyangnya menjadi agama yang dianut Rajaresi, namun tidak membuah kan hasil. Padahal Ra jaresi mengajarkannya kepada para penghulu desa, dan mendatangkan para brahmana dari India, namun rakyat masih banyak yang tetap setia kepada ajaran leluhurnya.
Jika saja ageman Sunda Wiwitan sebagaimana yang nampak dari anutan warga Baduy, dan dikaitkan dengan pera daban megalitik, prinsip warga Baduy percaya kepada satu yang kuasa, Batara Tunggal, pemilik karakteristik satu kekua saan dan kekuatan yang tak tampak, tetapi berada dimana-mana, dan sangat bijaksana dan suci. Istilah Batara dimung kinkan sebagai bentuk adaptasi dari bahasa keyakian sesu dahnya, tanpa merubah substansi atau maksudnya. Istilah Batara kemudian ditambahkan kepada Tunggal, sehingga menjadi Batara Tunggal (Judistira K. Garna : 2006). Penggunaan bahasa, seperti untuk menyebutkan nama Batara Cikal digantikan dengan sebutan Adam Tunggal, atau menyisipkan kata Slam (maksudnya Islam) kedalam istilah islam wiwitan untuk sebutan agama Sunda Wiwitan. Mungkin sebagai adaptifnya bahasa keyakinan urang Sunda baheula terhadap istilah-istilah yang digunakan di jamannya. Namun memiliki maksud dan substansi yang sama dengan paradigma yang dimaksud pada awalnya.
Pengaruh Budaya India
Kepercayaan agama Hindu dan Buda mengenal adanya istilah yang Gaib lainnya, yakni dewa yang bukan berasal dari rokh (arwah) nenek moyang. Dewa-dewa mempunyai cara hidup dan tempat tersendiri diluar kehidupan manusia, yakni di nirwana atau sorga. Dewa-dewa dalam agama Hindu jumlahnya banyak (politheis) dan memiliki fungsi dan tugas masing-masing.
Pada masa Salakanagara dapat diduga bahwa agama resmi negara adalah agama Siwa, termasuk di dalamnya mad hab Ganapatya (pemuja Ganesa), mengingat Dewawarman I dianggap asli keturunan dari India, sedangkan pada masa Tarumanagara, seperti nampak dari prasasti peninggalan masa Purnawarman, menganut agama Wisnu, termasuk madzhab Saura (Pemuja Surya). Anutan terhadap madzhab masing-masing berhubungan dengan keyakinan, bahwa raja adalah titisan Wisnu yang menjaga dan melihara ketertiban Jagat raya. Di tatar Sunda yang disebutkan titisan Sanghyang Wisnu adalah Prabu Dharmasiksa, sebagaimana disebutkan dalam nakah Wangsakerta dan Carita Parahyangan. Menurut Carita Parahyangan, :
..........Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti. Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan. "Tina naon berkahna?" Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamal keun Sanghiang Siksa. (Atja : 1968).
Banyak pula raja-raja dahulu yang menganggap dirinya keturunan Dharmaraja, sehingga menggunakan gelar Dharma untuk nama nobatnya. Kiasah Dharmaraja dapat ditelu suri dari kisah Satria Piningit dan Ratu Adil. Sumber ajaran ini berasal dari Kitab Tantu Pangelaran. Kitab ini mengisahkan tentang Siwa atau Batara Guru ngayuga Dewa Dharma raja. Keduanya memiliki kemiripan dalam bertapa dan memancarkan kebajikan-kebajikan yang bersifat ilahiyah. Kelak ratu Adil akan muncul dalam wujudnya sebagai resi (selanjutnya lihat dalam Uraian Uga).
Pada masa selanjutnya, didalam Naskah Sanghiyang Siksa Kanda Ng Karesiyan tersurat jejak keyakinan agama Siwa dan Buda sekaligus, seperti pada kata :
Hong kara namo sewa ya baktining huluan di Sanghiyang Pan ca Tatagata ... Panca ngaran ing lima, tata ma ngaran ing sab da, gata ma ngaran ing raga. (sesungguhnya puji dan sembah ku untuk Siwa, baktiku kepa da San ghyang Panca Tatagata .... Panca berarti lima, tata berarti ucapan, gata berarti wujud).
Dari naskah diatas nampak penggunaan simbol-simbol hindu dengan mengistilahkan Siwa, serta agama Buda Maha yana. Tataga dalam agama Buda adalah gelar untuk Budha. Panca Tataga adalah lima orang Dyani Buda atau Buda yang merenung sebagai Lokapala, pelindung dunia. Paradigma ini tetap hidup dan tertransformasikan kedalam istilah Buana Panca Tengah, untuk istilah bumi atau dunia. Jejak lainnya saat ini ada dalam pemahaman tentang kalimat Opat Kalima Pancer, seperti dalam pepatah orang tua :
..... Coba riksa anu opat nu jadi bakal manusa bumi, geni, banyu jeung angin. Bumi metukeun cahaya hi deung, nu nyata jadi pangucap. Geni metukeun cahaya beureum, nu nyata jadi panguping. Angin metukeun cahaya koneng, nu nyata jadi pangangseu. Banyu metukeun cahaya bodas, nu nyata jadi paningal.
Nu metukeun cahaya hideung, tina bumi malaikat sawiah. Nu metukeun cahaya beureum, tina geni malaikat tamarah. Nu metukeun cahaya koneng, tina anginna malaikat mutmainah, nu metukeun cahaya bodas, tina banyu malaikat loamah. Anu opat ngalebur ngajadi hiji, ngajadi papancer ning manusa.
(Coba periksa yang empat cikal bakal manusia, tanah, api, air dan angin. Tanah menimbulkan cahaya hitam, menjadikan bisa mengucap. Api menimbulkan cahaya merah, yang menja dikan bisa mendengar. Angin menimbulkan cahaya kuning, menjadikan bisa mencium. Air yang menimbulkan cahaya putih, yang menjadikan bisa melihat.
Yang melahirkan cahaya hitam dari bumi malaikat sawiah. Yang melahirkan cahaya merah dari api adalah malaikat tamarah. yang melahirkan cahaya kuning dari angin adalah malaikat loamah. Yang melahirkan cahaya putih dari air adalah malaikat loamah. Yang empat melebur menjadi satu, menjadi pertandanya manusia).
Paradigma tentang kalimat diatas diabadikan dalam setiap gerak hidupnya, seperti yang diabadikan dalam bentuk jurus Tepak Hiji dalam Ilmu Silat Cimande, jurus empat (mata angin) di tambah satu pancernya (tengah), atau opat kalima pancer (empat yang kelimanya pancer). Pada masa lalu, maksud yang sama menunjukkan lima huruf didalam kepercayaan Hindu, yang disebut panca aksara, yaitu Na, Mo, Si, Wa, Ya. Aksara tersebut di anggap perwujudan Siwa :
NA | Siwa sebagai Iswara | Di timur |
MO | Siwa sebagai Brahma | Di selatan |
SI | Siwa sebagai Mahadewa | Di barat |
WA | Siwa sebagai Wisnu | Di utara |
YA | Siwa sebagai Siwa | Di tengah (Pancer) |
Tentang naskah dimakud, selengkapnya sebagai berikut :
Lamun pahi kaopeksa sanghyang wuku lima (dina) bwana, boa halimpu ikang desa kabeh. Desa kabeh ngaranya: purba, daksina, pasima, utara, madya. Purba, timur, kahanan Hyang Isora, putih rupanya; daksina, kidul, (kahanan Hyang Brahma, mirah rupanya; Pasima, kulon) kahanan Hyang Mahadewa, kuning (rupanya); utara, lor, kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya; madya, tengah, kahanan Hyang Siwah, (aneka) warna rupanya. Nya mana sakitu sanghyang wuku lima dina bwana. (Kalau terpahami sanghyang wu ku lima di bumi tentu menyenangkan semua tempat. Tempat itu disebut: purwa, daksina, pasima, utara, madya. Puwa yaitu timur tempat Hyang Isora, putih warnanya. Daksina yaitu selatan, tempat Hyang Brahma merah warnanya. Pasima yaitu barat, tempat Hyang Maha dewa kuning warnanya. Utara tempat Hiyang Wisnu hitam warnanya Madya di tengah tempat Hyang Siwa aneka macam warna. Yaitulah wuku lima di bumi).
Masyarakat dahulu meyakini, dari sorga para dewa mengatur dan mengawasi kehidupan manusia. Tiap pemeluk agama Hindu dan Buda meyakini, jika mereka mengindahkan tun tunan moral dan agama maka akan masuk sorga, bersatu di alam kehidupan dewa-dewa. Sebaliknya, akan masuk neraka dan mengalami samsara, jika tekad dan perilakunya buruk. Jejak lainnya terdapat didalam naskah Sewaka Darma (kebaktian terhadap darma). Hal ini menunjukan bahwa Tantrayana di wilayah Sunda sudah terpengaruh oleh ajaran Buda Mahayana. Pengaruh tersebut masih terjalin dengan agama leluhur Sunda. Seperti unsur Hiyang dibedakan dari dewa, sekalipun keduanya tinggal di Kahiyangan atau Parahiyangan.
Dari sudut pernaskahan, seperti naskah Jatiniskala mengandung embaran mengenai ajaran keagamaan yang memperlihatkan berbaurnya ajaran Hindu, Buda dengan ajaran Pribumi. Naskah Jatiniskala lebih banyak menyebutkan nama-nama kuasa imajiner pribumi. Mereka disederajatkan dengan apsari, makhluk kahyangan, pendamping para Dewa. Seperti tujuh pohaci, yaitu : Pwah sri Tunjungherang, Pwah Sri Tunjunglenggang, Pwah Sri Tunjunghanah, Pwah Sri Tunjung manik, Pwah Sri Tunjungputih, Pwah Sri Tunjungbumi, Pwah Sri Tunjungbwana. Kesemuanya berada didalam kurungan dan masing-masing mempunyai apsari, yaitu: Aksari Tunjungnaba, Tunjungmabra, Tunjungsiang, Tunjungkuning, Nagawali, dan Nagagini. Kemudian ada juga apasari Manikmaya, Mayalara, dan lainnya.
Konsep Hiyang
Perkembangan selanjutnya menurut Ekadjati (2005), konsep banyaknya dewa-dewa, pada masa kerajaan Sunda dan Galuh membingungkan masyarakat karena terlalu banyak yang harus disembah. Sifat politheistis Tuhan menimbul kan kecenderungan untuk mengutamakan rokh dan dewa (Tuhan) tertentu, namun mengabaikan dewa lainnya. Selain itu di dalam upacara keagamaan lain yang sarat tatacara, dan urutan yang ketat serta mantera-mantera yang tidak boleh salah ucap atau salah susun, dianggap kurang sesuai dengan watak agama leluhurnya. Oleh karena itu mereka mencari konsep alternatif lain untuk menemukan Tuhan yang sesuai dengan karakternya yang berpindah-pindah setiap musim pa nen. Sehingga perlu praktis, akrab dengan alam, mengutama kan isi dari pada bentuk, cara memuja dapat dilakukan dimana saja. Bagi masyarakat Sunda waktu itu, sebongkah batu alam yang agak aneh bentuknya sudah cukup untuk dijadikan titik pusat upacara ritual. Setelah usai batu tersebut di tinggalkannya karena di tempat lain pun masih mudah mem peroleh jenis batu yang sama. Modal penting untuk menjalin hubungan dengan yang Gaib adalah kesungguhan hati, kehidmatan didalam keheningan alam sekitar. Pada masa itu para pemuka agama menggunakan referensi dari keyakinan menurut ajaran leluhur, hindu dan buda, disamping berdasarkan pengamatan, pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri. Oleh karenanya ajaran ini seperti yang tertera di dalam naskah-naskah Sunda (Sewaka Darma Sanghiyang Siksa Kanda Ng Karesiyan dan Naskah Jatiniskala).
Konsep Hiyang menurut Ekadjati (2005, hal 178) baru diketahui pada masa pemerintahan Sri Jayabupati (abad ke-11), namun baru pada tahap menggunakan pengertian yang gaib atau yang suci, belum pada pengertian Tuhan. Sanghi yang sudah mulai di letakan ditempat suci, yakni Kabuyutan Sanghyang Tapak. Dalam masa sesudahnya, konsep Hiyang dengan Dewa dapat dilihat dalam memfungsikan kabuyutan, yakni Kabuyutan Lemah Dewasasana, tempat kegiatan menurut agama Hindu (Kabuyutan Sundasembawa dan Gunung Samaya) dengan Kabuyutan Lemah Parahyangan, tempat kegiatan agama Sunda buhun, atau agama Jatisunda (Kabuyutan Kanekes). Sekalipun disebutkan agama Hindu ber interaksi di Kabuyutan, namun ditatar Sunda sulit untuk menemukan candi, termasuk di kabuyutan Dewasasana.
Naskah Pustaka Wangsakerta menyebutkan agama Sunda pada masa Sunda kuno memiliki kitab suci yang menjadi pedoman umatnya, yaitu Sambawa, Sambada dan Winasa. Ketiga kitab suci tersebut baru ditulis pada masa pemerinta han Rakean Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu, yang ber kuasa ditatar Sunda pada periode 1175-1297 M. Hemat penulis, kitab ini merupakan bentuk pengulangan dan penegasan, karena Prabu Darmasiksa bukanlah penganut agama Sunda yang pertama, bahkan keberadaan ageman Jati Sunda sudah diketahui pada masa Aki Tirem, untuk kemudian kasilih dan bersentuhannya dengan budaya dari India. Namun memang setelah masa Prabu Darmasiksa agama Sunda Wiwitan menja di agama resmi kerajaan.
Konsepsi teologis Sunda Wiwitan berbasiskan pada faham Monoteisme atau percaya akan adanya keberadaan Hiyang itu gaib dan Tunggal, tidak jamak. Hiyang atau Sanghiyang didalam Ensiklopedia Sunda ditujukan untuk menyebutkan Yang Maha kuasa, menurut kepercayaan Sunda lama adalah Sanghyang Keresa (Maha Pencipta), disebut juga Batara Tunggal (Yang Esa), atau Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Semua Dewa Hindu yang datang kemudian, tunduk kepadanya. Oleh karenanya Sanghiyang dianggap lebih tinggi dera jatnya dari Dewa-dewa menurut konsep agama Hindu. Hal ini dapat ditemukan didalam uraian tentang Dasa Prebakti yang ditulis didalam naskah Sanghiyang Siksa Kandang Karesyan, antara lain menyebutkan: Raja Bakti Ka Dewa; Dewa Bakti Kahiyang. Demikian pula didalam Naskah Paningkes, atau Naskah Panikis menyebutkan, bahwa: kalau wiku memuja dewata, hilanglah kewikuannya. Jika pendeta bersemedi (memuja) dewata, hilanglah ke pendetaannya, karena perhatian dan kecintaannya tergeser oleh (kelakuannya) sendiri. Sifat Hiyang tercermin dari nama-nama yang diberikan kepadanya, yaitu Batara Seda Niskala (Yang Gaib), Batara Tunggal (Yang Esa), Batara Jagat (Yang Menguasai Alam), Sang Hiyang Ke resa (Yang Kuasa), Nu Ngersakeun (Yang Berkehendak), dan Batara Guru (Yang Maha Tahu). Dalam menjalankan tugasnya mengatur semesta alam, Sanghyang Keresa dibantu oleh para Sanghyang lainnya seperti Sanghyang Guru Bumi, Sanghyang Kala, Sanghyang Ambu Jati , Sunan Ambu, dan lainnya. Istilah Sanghiyang adakalanya digunakan pula untuk me nyebut orang atau makhluk yang dihormati, seperti Sanghiyang Lutung Kasarung, Sanghiyang Sri, Sanghiyang Borosngora dan lain-lain.
Agama Sunda Wiwitan juga mengenal klasifikasi semesta alam menjadi tiga bagian, yakni Buana Nyungcung (tempat bersemayamnya Sanghyang Keresa) Buana Panca Tengah (tempat hidup manusia dan mahluk hidupnya) dan Buana Larang (neraka). Selain itu, dalam ajaran Sunda Wiwitan juga dikenal adanya proses kehidupan manusia yang harus melalui sembilan mandala di dunia fana dan alam baka. Kesembilan mandala yang harus dilalui manusia tersebut adalah: Mandala Kasungka, Mandala Parmana, Mandala Karna, Mandala Rasa, Mandala Seba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Samar dan Mandala Agung. Dari tahapan Jati Mandala maka sudah termasuk pada Mandala Kasucian. Sedangkan di mandala tertinggi, yakni Mandala Agung merupakan tempat bersemayam nya Sanghiyang Tunggal, anu Nunggal di sakabeh Alam jeung sakabeh Jagat.
Pada masa Sunda Pajajaran, agama Sunda Wiwitan mengenal beberapa tempat suci yang juga dijadikan sarana peribadatan seperti yang ada di Kabuyutan, Balay Pamunjungan Babalayan Pamujaan serta Saung Sajen. Hampir semua tem pat ibadah tersebut berbentuk punden berundak yang terdiri dari kumpulan batu-batu besar. Sementara pada masa kejayaan Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sarana peribadatan yang banyak didirikan justru candi yang hingga kini masih dapat kita temui peninggalan nya. Bahkan candi juga terkait dengan simbol kekuasaan.
Konsep berketuhanan di tatar Sunda dari masa kemasa tidak menimbulkan benturan fisik karena masyarakat Sunda sangat terbuka untuk sesuatu yang dianggap baik. Namun bukan berarti mudah berpindah keyakinan, atau tidak memiliki agama, melainkan karena adaptifnya para pemegang ajaran Sunda buhun. Hal demikian dapat ditemukan dalam bahasa penganut ajaran Wiwitan, seperti istilah Slam Sunda Wiwitan di masyarakat Baduy, dan penggunaan kata-kata Allah bagi yang berada di luar masyarakat Baduy. Dalam hal ini dapat di simak keterangan Ayah Mursid, pemuka masyarakat Baduy, sebagai berikut :
Agama nu di agem ku masyarakat Baduy, ngarana Agama Slam Sunda, kami mah teu ka bagean parentah shalat seperti dulur-dulur sabab wiwitan Adam tugasna memelihara kasaim bangan ieu alam teu ngabogaan kitabna da ajaran neurap jeung alam Makana agama Slam Sunda Wiwitan ngan ukur keur Baduy.
(Agama yang diyakini orang Baduy namanya agama Slam Sunda awal. Nabinya Adam Tunggal. Dalam keyakinan kami tidak kebagian perintah shalat seperti saudara-saudara sebab Wiwitan Adam tugasnya memelihara keseimbangan alam tidak memiliki kitab suci karena ajarannya bersatu dengan alam, makanya agama Slam Sunda Wiwitan hanya diperuntukan bagi masyarakat Baduy) (Asep Kurnia : 2010).
Menemukan Hiyang
Pada masa selanjutnya ditemukan konsep Tuhan yang dinamakan Hiyang. Istilah Hiyang disebut juga Sanghiyang, menggunakan cara penulisan yang beragam, yakni Hyang; Sanghyang; dan Sang Hiang, memiliki makna yang sama, yaitu Yang Gaib. Konsep Hiyang berpangkal dari makna dan proses terbentuknya rokh dalam kepercayaan leluhur, namun bu kan berasal dari jiwa manusia atau roh manusia. Hiyang terbentuk dengan sendirinya dan menguasai seluruh alam. Keberadaan Hiyang itu gaib dan Tunggal, tidak jamak. Sifat Hiyang tercermin dari nama-nama yang diberikan kepadanya, yaitu Batara Seda Niskala (Yang Gaib), Batara Tunggal (Yang Esa), Batara Jagat (Yang Menguasai Alam), Sang Hiyang Kere sa (Yang Kuasa), Nu Ngersakeun (Yang Berkehendak), dan Batara Guru (Yang Maha Tahu). Sekalipun Hiyang dengan Dewa dianggap berada di Parahiyangan, namun berdasarkan perbaktiannya Hiyang dianggap yang lebih tinggi bahkan dewa pun berbakti ka Hiyang.
Penemuan Hiyang tidak menghilangkan fungsi dari dewa-dewa lainnya, namun tetap ditempatkan di bawah Hiyang. Tempat Hiyang berada di Parahiyangan bukan di dunia. Didalam naskah Kosmologi Sunda (Kropak 420), Parahiyangan me miliki beberapa tingkatan.Tingkat paling bawah di huni oleh para dewa hindu (Brahma, Wisnu, Siwa, Isora, Mahadewa). Diatas para tersebut ditempati Dewa dalam konsep Sunda, seperti Sari Dewata dan Ni Dang Larang Nawati. Di atasnya lagi dihuni oleh Dewi Sri (Pwa Sanghyang Sri), Dewi Bumi (Pwa Naga Nagini), Dewa Bulan (Pwa Naga Nagini). Ditempat yang paling atas sekali, bersemayam Sang Hiyang Keresa tempat yang lepas dari semua ikatan, dan hidup dalam keabadian atau tempat tertinggi yang diinginkan manusia ketika nanti pulang kealam baka, atau Jatiniskala, atau tempat keabadian sejati.
Pengakuan terhadap agama Hindu, Buda dan Batara Seda Niskala, ditemukan pula didalam Naskah Sanghiyang Siksa Kanda Ng Karesiyan. Pada bagian akhir naskah tersebut me negaskan, sebagai berikut :
....... Samangkana kayatnakeun talatah sang sadu. Saur sangdarma pitutur mujarakeun sabda sang rumuhun, tutur twah paka sab da : Namo Siwa ya! Nami Budaya! Namo Sidam Jiwa nalipurna ! Sang amaca maka suka, sang nurut ma ujar rahayu ngare gep cipta nirmala, yatna sang sewaka drama. Ini kawuwusan siksa kandang karesian ngaranya, ja na pustakanipun sang ngareungeu pun. (Demikian pesan sang budiman, ujar sang darma pitutur me nguraikan ajaran para leluhur, Yaitu ajaran perilaku yang men jadi pelajaran: Sembah kepada Siwa! Sembah kepada Buda! Sembah sepenuhnya kepada Jiwa Maha sempurna! Semoga pembaca menjadi, yang mengikuti ajaran kebajikan, memperhatikan cita-cita kesucian, mengikuti hukum-hukum pengabdian. Demikianlah yang di katakan siksakandang karesian, semoga menjadi sumber pengetahuan bagi yang mendengarkannya.)
Dewa bakti ka Hiyang
Naskah buhun yang menyiratkan digunakannya kembali ajaran leluhur dan bercampurnya pengaruh Hindu dan Buda, selain didalam naskah Jatiniskala juga ada didalam naskah Kawih Paningkes atau Kawih Panikis (Br 419). Di dalam naskah ini nama dewa-dewa dalam ajaran Hindu dan Budha, seperti dewa, dewata, sri, mahayoga, dan moksah di temukan bersama-sama nama pohaci, wirumananggay, kahiyangan, sanghi yang dan puhun nama khas yang gaib dalam kosmologi Sunda. Naskah Kawih Paningkes menguraikan pula tentang wiku dan pendeta melakukan sembahyang. Naskah tersebut menegaskan jika wiku dan pendeta memuja dewata maka hilang lah kewikuan dan kependetaannya, bahkan dianggap salah. Mungkin ada hubungannya dengan Dasa Prebakti yang dimu at dalam naskah Sanghiyang Siksa, naskah tersebut menem patkan Hiyang diatas dewa. Naskah Paningkes sebagaimana yang dicuplik dari tulis annya Ayatrohaedi (2003), sebagai berikut :
...... Baruk da sang wiku lamun muja ka dewata leungit kawik wanana pandita lamun samadi mihdap hyang dewata hilang ka panditaan ja kassarkeun katineung sarwa dingan trisna bala swarangan ........ (... katanya, kalau wiku memuja kepa da dewata, hilanglah kewikuannya. Jika pendeta bersemedi (memuja) dewata, hilanglah kependetaannya, karena perhatian dan kecintaannya tergeser oleh (kelakuannya) sendiri ....).
Jika saja ada hubungannya dengan strata pembaktian, yang menempatkan Hiyang diatas Dewa, penegasan dan alasannya ditulis dalam kalimat selanjutnya, bahkan dianggap sebagai takdir sejak masa di ciptakannya Mayapada oleh Batara Seda Niskala, sebagai Yang Hak dan Yang Wujud. Orang Baduy menyebutkan masa itu sebagai Jaman Allah ngan Sorangan. Adapun tulisan dimaksud, sebagai berikut :
..... Sakala batara jagat basa ngreta keun bumi niskala. Basana: Brahma, Wisnu, Isora, Mahadewa, Siwa. bakti ka Batara ! Basana : Indra, Yama, Baruna, Kowera, Besawarma, bakti ka Batara ! Basana: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Pata(n)jala, bakti ka Batara: Sing para dewata kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala. Pahimanggihkeun situhu lawan preityaksa. (Suara panguasa alam waktu menyempurnakan mayapada. Ujarnya: Brahma, Wisnu, isora, Maha dewa, Siwah, baktilah kepada Batara! Ujarnya: India. Yama, Baruna, Kowara, Besa warma, baktilah kepada Batara! Ujarnya: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Patanjala, baktilah kepada Batara! Maka para dewata semua berbakti kepada Batara Seda Niskala Semua menemukan Yang Hak dan Yang Wujud)
Pemikiran tentang penemuan posisi Hiyang, sebagaima na yang dimuat di dalam naskah Kawih Paningkes direkam se cara utuh dalam naskah Siksa Kanda Ng Karesiyan, yakni naskah yang dibuat setelahnya, atau pada 1518 masehi. Naskah tersebut membahas dalam Dasa Prebakti (sepuluh pembaktian) yang menempatkan Hyang diatas segala-galanya, dan sebagai tujuan dari semua makhluk.
Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti dilaki. hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado. wado bakti di mantri, mantri bakti di nu nangganan. nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh dasa prebakti ngara(n)na. (Ini yang disebut dasa prebakti. Anak tunduk kepada bapak; isteri tunduk kepada suami; hamba tunduk kepada majikan siswa tunduk kepada guru; petani tunduk kepada wado; wado tunduk kepada mantri, mantri tunduk kepada nu nangganan; nu nangga nan tunduk pada mang kubumi; mangkubumi tunduk kepada raja; raja tunduk kepada dewata; dewata tunduk kepada hiyang. Ya itulah yang disebut dasa prebakti).
Hiyang didalam naskah Kosmologi Sunda dan Jatiraga di tempatkan sebagai tujuan manusia yang paling tinggi, merupa kan cita-cita jika atma (roh) manusia jika dikelak kemudian hari harus keluar dari kurungannya. Konsep demikian dimuat didalam Kosmologi Sunda. Menurut Undang A Darsa dan Edi S. Ekadjati (2006), jagat raya terdiri dari tiga tingkatan yaitu Sakala, Niskala, Jatiniskala. Jatiniskala atau kemahagaiban sejati, dihuni oleh Dzat Yang Maha Tunggal, dinamakan pula Sang Hyang Manon, Dzat Yang Maha Pencipta disebut Si Iju nati Nistemen, pencipta batas tetapi tak terkena batas. Dunia ada dalam Dzatnya. Suasana di Jatiniskala digambarkan suka tanpa mengenal duka, kenyang tanpa mengenal lapar, hidup tanpa mengenal mati, bahagia tanpa mengenal nestapa, baik tanpa mengenal buruk, pasti tanpa mengenal kebetulan, lepas tanpa mengenal ulangan hidup. Menurut Saleh Danasasmita (1987), digambarkan alam “Suka tanpa balik duka, wareg tanpa balik lapar, hurip tanpa balik pati, sorga tanpa balik papa, hayu tanpa balik hala, nohan tanpa balik wogan, moksa tanpa balik wulan”.
Kembali ke Jatiniskala adalah cita-cita orang dahulu yang saleh, sehingga kematian pun disebut ngahiyang, dari ada menjadi gaib, atma menuju tempat bersemayamnya Hiyang. Peristiwa ngahiyang ada dua cara. Pertama, Atma manusia menuju alam kalanggengan namun jasadnya masih tetap di dunia. Kedua jiwa dan raganya lenyap, ngahiyang atau tilem. Didalam metologi urang Sunda dikenal dengan tilem, mendasarkan pada pemikiran bahwa manusia meminjam jasad dari yang berhak. Seperti jika manusia meminjam barang maka harus dikembalikan seluruhnya kepada pemiliknya, termasuk raganya. Berdasarkan mitologi pula menyatakan, bahwa ngahiyang sebagaimana yang kedua sangat jarang terjadi, kecuali jika manusia semasa hidup dapat menghindarkan semua perbuatan (tapa) yang buruk. Dalam mitologi dijelaskan pula bahwa yang mampu ngahiang atau tilem hanyalah Prabu Siliwangi.
Teks buhun umumnya mengabarkan perihal cita-cita urang sunda buhun jika meninggalkan alam dunya, yakni balik ka Hyang lain ka Dewa. Kita harus memperteguh diri, menertibkan hasrat, ucap dan budi. Bila hal itu tidak diterapkan dan dilakukan oleh orang-orang dari golongan rendah, menengah dan tinggi semua akan dijerumuskan ke dalam neraka Si Tambra Goh muka. Karena ilmu manusia terungguli oleh dewata. Demikianlah kata Sanghyang Siksa (asp)